Indah Itu Bukanlah Sempurna

Setiap hari kita harus siap menghadapi kondisi yang tidak ideal. Setiap hari, setiap saat. Misalnya ketika berangkat ke suatu tempat, tiba-tiba bus yang kita naiki mogok sehingga kita pun harus beralih kendaraan. Lalu ketika jalur yang biasa kita tempuh macet luar biasa, kita harus memikirkan cara lain agar dapat sampai di tujuan tepat waktu.

Begitu pula dengan mengasuh anak (parenting).

Anak adalah sesosok manusia yang memiliki sifat, karakter, serta kemauan sendiri. Dengan pola pikir logis yang berkembang seiring dengan usianya.

Membesarkan anak berarti harus siap menghadapi kondisi tidak ideal

Ketika anak-anak lain dengan senangnya bergabung dalam aktivitas di kelas barunya (TK), anak saya termasuk yang sulit untuk bergabung di lingkungan tersebut. Menolak keras pada awalnya. Lalu lama-kelamaan berkurang penolakannya seiring hari. Walaupun sampai dengan hari ini, sudah masuk minggu ketiga ia ber-TK, ia masih belum bergabung sebagaimana anak yang lain.

Kerapkali terbersit pikiran,
“Kenapa tidak seperti anak yang lain ya..?”
“Apa yang salah?”
Dan pikiran-pikiran semacam itu

Setiap kali pikiran itu muncul, Saya coba tepis dengan mengingat bahwa setiap anak dibesarkan dengan cara yang berbeda, dalam lingkungan yang berbeda, orangtua yang berbeda. Dan setiap anak memang memiliki usia kematangan yang berbeda. Jadi jangan dipaksakan, jangan disama-ratakan. Biarkan proses awal “bersekolah” ini menjadi hal yang menyenangkan baginya. Sebagai awal dari proses panjang “belajar di sekolah” bertahun-tahun ke depan.

Ketika lintasan pikiran negatif itu muncul, sangat memulihkan semangat untuk mengingat-ingat kembali perkembangan anak yang sudah ia lewati.
“Oh.. Ia sekarang sudah mau menyebutkan nama para guru”
“Oh.. Ia sekarang sudah menyebutkan beberapa nama temannya”
“Oh.. Kemarin Ia sudah mau bercerita tentang kegiatan bersama temannya di sekolah”

Kita terlahir dalam kondisi tidak bisa berjalan dan tidak bisa bicara. Kita bertumbuh seiring waktu. Dengan belajar kita berkembang. Sama halnya dengan mendidik anak. Yang terpenting adalah pertumbuhan atau perkembangan.

Ingat-ingatlah pencapaian positif anak kita ketika diri ini tergoda untuk membanding-bandingkan dengan anak lain, bahkan dengan adik/kakaknya. Ingatlah perasaan bahagia ketika mengetahui ada perkembangan baru dari diri anak kita. Syukurilah hal tersebut. Teruslah dengan sabar dan optimis mendorong anak untuk mengeluarkan yang terbaik dari dirinya.

Sabar bukan berarti tidak memikirkan cara/strategi yang baik demi kebaikan anak. Terus jalin komunikasi yang baik dengan para guru. Diskusi dengan pasangan dan orang tua. Terus belajar dan memotivasi anak.

Anak pertama Saya ini unik. SETIAP HARI ia mengulangi pertanyaan yang sama, “Kenapa harus Sekolah?” Dan SETIAP SAAT pula Saya berusaha memberikan jawaban dengan antusias. Walaupun jawaban itu SAMA PERSIS dari hari ke hari. Saya hanya berpikir, ibarat air yang menitik pada batu kali, lama-kelamaan akan menimbulkan bekas pada batu tersebut walaupun ia hanyalah sekedar tetesan air.

Yakinlah tidak ada usaha yang sia-sia.
Yakinlah bahwa Allah akan mendengarkan doa dan harapan yang senantiasa kita panjatkan di akhir shalat, dalam perjalanan kerja, dalam renungan kita.
Yakinlah suatu hari nanti kita akan melihat anak kita berbahagia menjadi yang terbaik versi dirinya.

Bismillah..
Semoga kita bisa menjadi orang tua yang amanah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s