Sudahkah Kita Bersyukur?

Kemarin ada kajian muslimah di kantor. Dari sekian banyak hal yang disampaikan oleh Ustadzah. Ada satu hal yang begitu mengena di hatiku. Ada satu pertanyaan dari peserta kajian yang berbunyi :

“Bagaimana mengukur rasa syukur saya, Ustadzah? Maksudnya, bagaimana saya tahu bahwa saya sudah benar-benar bersyukur?”

Kemudian Ustadzah menceritakan suatu kisah tentang Rasulullah. Kisah itu sebagai berikut :

Atho’ pernah bertanya kepada Aisyah r.a.: ceritakan kepadaku apa yang paling kau kagumi dari Rasulullah, lalu Aisyah menangis.

Suatu malam Rasulullah s.a.w. berdiri untuk sholat, beliau berkata: Wahai Aisyah biarkan aku menyembah Tuhanku. Sesungguhnya aku senang bersamamu dan aku senang menyenangkanmu”. Lalu beliau pun bangun dan sholat, lalu beliau sholat sambil menangis sehingga lantai kamarku basah karena air mata beliau.

Lalu berkumandanglah adzan Bilal untuk subuh, ketika Bilal melihat mata Rasulullah basah karena menangis, Bilal pun bertanya:”Wahai Rasulullah, untuk apa engkau menangis padahal Allah telah mengampunimu dosamu yang lalu dan yang akan datang? Rasul menjawab: Wahai Bilal aku lebih suka untuk menjadi hamba yang banyak bersyukur. Malam ini diturunkan kepadaku ayat yang rugilah orang yang membacanya dan tidak menghayatinya, yaitu ayat Ali Imran 190-194. (Ibnu Hibban:sahih)

———————————–

Jadi salah satu korelasi antara rasa syukur seorang hamba adalah dari kuantitas dan kualitas ibadahnya. Seberapa besar rasa syukur kita, dapat dilihat dari seberapa besar komitmen kita dalam beribadah.

Jadi ketika hati ini bertanya-tanya : apakah aku sudah bersyukur? Ataukah aku kufur terhadap nikmat-Mu?

Atau ketika terbersit di hati ini : aku ingin menjadi hamba yang bersyukur kepada-Mu, ya Rabb. Aku tidak ingin menjadi hamba yang kufur terhadap nikmat-Mu.

Saatnya kita evaluasi diri. (Terutama diri saya)

Bagaimana dengan ibadah-ibadah kita selama ini?

Tilawah kita?

Shalat kita, lima waktu kah? Sudah khusyuk kah?

Sedekah kita, apakah dg bertambahnya nikmat kita menjadi semakin ringan bersedekah? Atau justru semakin bakhil (pelit)?

Ilmu kita, apakah semakin membawa manfaat untuk orang lain? Ataukah justru membuat hati ini meninggi?

Jadi, sahabatku …

Sudahkah kita bersyukur kepada-Nya?

Jawablah… Tapi jangan hanya di lisan.

Jawablah dengan perbuatan.

Ya Allah… Ampuni aku…

Iklan

2 thoughts on “Sudahkah Kita Bersyukur?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s