Sepotong Roti dan Sejumput Rasa Sesal

En

Hari ini aku berpuasa. (Ups! Kok bilang-bilang?) Sebelum pulang kantor, aku menyempatkan diri untuk membeli sepotong roti yang berisi blueberry. Tapi roti yang ku incar itu sudah habis sore ini. Sedihnya. 😦

Nah, mba penjual roti yang baik hati memberi tahu aku bahwa ada jenis lain yang isinya juga blueberry. Ow!!! Tentu saja aku beli. Biarlah jenisnya beda, yang penting isinya sama. Hehee..

Tak lama ketika aku tiba di rumah, adzan magrib berkumandang. Alhamdulillah… Telah tiba waktu berbuka puasa.

Nyamm...

Dengan sigap ku teguk air putih di meja terdekat. 😆 Kemudian ku ambil roti blueberry dari dalam tas ku. Ku buka bungkusnya. Lalu…

Nyamm…. Satu gigitan telah ku kunyah.

Mantap! Rotinya manis + renyah + empuk. Blueberry-nya manis sekali, sesuai ekspektasiku. Wah, senangnya! Enaaaaaak! Alhamdulillah

Ditengah-tengah menikmati kunyah demi kunyah roti ini, aku teringat sesuatu. Adik ku juga suka roti ini! Duh! Aku cuma beli satu! Bagaimana dong?

Akhirnya ku sisakan setengah untuk adik ku. Dengan rasa sesal yang menyelinap.

Ah, kenapa tidak ku beli dua potong? Jika ku tahu begini enak rasanya, pasti ku beli dua potong. Satu untuk ku. Satu untuk adik ku.

Yah, namanya juga rasa sesal. Selalu datang belakangan.

Lalu aku pun shalat magrib. Selepas shalat magrib, sempat terlintas dalam benak ku.

Ya Allah, roti yang sedemikian manis ini telah memunculkan rasa sesal dalam batin ku.

Entah bagaimana ceritanya, aku pun jadi teringat dengan janji Allah kepada hamba-Nya yang taat. Yang bersabar dalam ujian. Yang bersyukur dalam nikmat dan kelapangan. Yang ikhlas dan istiqomah dalam beramal.

Allah menjanjikan balasan yang besar.
Kehidupan dunia yang penuh rahmat dan berkah.
Ampunan atas segala dosa dan kesalahan.
Keselamatan di akhirat.
Tempat kembali yang baik, surga-Nya.
Perjumpaan dengan-Nya di surga kelak.
Berkumpul dengan para rasul, sahabat, serta orang-orang shaleh.

Kurang manis kah balasan yang Allah janjikan itu?

Dalam Qur’an bertaburan kisah-kisah penyesalan orang-orang yang menyia-nyiakan waktunya di dunia.
Berulang mereka berkata, “Seaindainya aku dapat kembali ke dunia, aku akan melakukan apa yang Engkau perintahkan ya Allah…”

Seandainya…
Seandainya…
Seandainya…

Terlambat!

Sahabat, sebelum waktu habis.
Mari kita lakukan perubahan.
Perbaikan diri, keluarga, lalu masyarakat.

Amal,
Amal,
Amal,
Jadikan amal sebagai obsesi hidup.

Ketika hati ini begitu lapar dan dahaga.
Ketika lelah pun tak terkira.
Ingatlah akan janji Allah.
Jika nikmat sepotong roti saja sudah membuat diri ini dapat bersyukur sedemikian,
apalagi nikmat yang Allah janjikan kelak!

Ya Allah, aku tidak mau menjadi hamba yang menyesal di penghujung !!!
Biar penuh duri, akan kujalani.
Laa haulaa walaa quwwata illaa billah…

Ya Allah, jangan Engkau kategorikan kami ke dalam hamba-hamba yang menyesal di hari akhir kelak.
Golongkanlah kami ke dalam golongan hamba-hamba yang berwajah cerah ceria di hari perhitungan.
Karuniakanlah kami hati yang senantiasa khusyu dalam mengingat-Mu.

Jakarta, 28 Juni 2010

Iklan

6 thoughts on “Sepotong Roti dan Sejumput Rasa Sesal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s