Sakit Mata. Mata Sakit. (Hikmah)

Sudah tiga hari ini aku sakit mata. Mataku kena virus-mata. Bisa menular! Jadi, lebih baik aku tidak masuk kantor. Begitu kata bu dokter.

Walhasil, tiga hari ini aku di rumah saja. Mendekam di kamar. Mengerjakan coding tugas kantor di komputer rumah. Alhamdulillah, ada kerjaan.

Tiga kali sehari ku harus meneteskan obat mata ke kedua bola mata. Perih luar biasa ketika obat mata itu mengenai urat syaraf-mataku.

Mengerang. Mengaduh. Istighfar.

Astaghfirullah… Sakit rasanya. Nyeri. Pedih. Seperti ada pasukan semut yang menggigiti.

Mengerang. Mengaduh. Istighfar.

Astaghfirullah…

Ku tidak bisa tergantung pada orang lain. Biar sakit, ku tetap harus meneteskan obat mata itu sendiri. Konflik batin antara tangan yang ingin meneteskan dan mata yang secara-tidak-sadar, berusaha untuk terpejam; Menolak obat mata yang menyakitkan itu.

Itu saja belum cukup. Masih ada salep-mata yang harus ku oleskan ke kedua bola mata ku tiap malam. Awalnya ku pikir, salep-mata ini akan lekas menguap. Tapi ternyata, ketika ia dioleskan, ia akan berada cukup lama di permukaan bola mata saya. Sehingga aku pun belajar bahwa setelah mengoleskan salep-mata, aktivitas yang paling tepat adalah TIDUR. Karena dalam penglihatanku seakan ada kabut yang menyelimuti. Tidak nyaman.

Menurut dokter, aku besok sudah bisa masuk kerja. Istirahat cukup 3 hari. Tapi aku masih ragu, jika besok pagi mataku masih merah, apakah tidak sebaiknya aku di rumah saja? Bukannya aku malas bekerja. Tapi aku sungguh takut kalau menularkan penyakit ini ke bapak/ibu di kantor. Khawatir akan menular di keluarga mereka.

Mata.. Oh mata..

Lekaslah sembuh esok hari.

Aku sudah rindu bekerja di kantor.

Biar pun sakit mata, ku bersikukuh untuk tidak mengeluh. Wong baru sakit mata! Masih bisa melihat, alhamdulillah.. Organ yang lain pun masih berfungsi dengan baik, alhamdulillah..

Masih ada telinga untuk mendengar.
Masih ada tangan untuk memegang dan mengetik.
Masih ada kaki untuk melangkah.
Organ pencernaan, pernapasan, ekskresi, dll yang masih berfungsi.
Dan masih ada hati untuk membedakan antara yang hak dan batil.

Alhamdulillah..

Udah lah, cukupkan segala keluh dan kesah. Membuat diri ini kurang bersyukur saja. Kalau kata seorang teman dalam status Gtalk-nya,

mengeluh hanya akan menghalangi diri untuk bersyukur”.

Lalu ada pula seorang mbak di kantor yang status Gtalk-nya selalu,

“Bersyukur…”. πŸ™‚

Sering-sering melihat ke bawah, masih banyak yang bisa dan patut disyukuri daripada dikeluhkan. Ya kan?

Dan tengok ke atas itu dilakukan ketika untuk memotivasi diri untuk menjadi lebih baik saja. Bukan untuk mengasihani/menyesali kondisi saat ini.

Satu hal yang saya yakini, bahwa setiap orang pasti pernah merasakan bahwa hidupnya itu sulit. Lebih sulit dari orang lain. Masa-masa itu pasti ada!

Dan masa (kejayaan) dan kehancuran itu, kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapatkan pelajaran)… (QS. Ali-Imran : 140)

Dalam menyikapinya, ada orang-orang yang memilih untuk menceritakannya dengan sesama. Kalau menceritakannya dengan teman terpercaya untuk mencari solusi sih, bagus. Nah, sayangnya ada juga yang menceritakan hanya untuk mengeluh, mengeluh, dan menunjukkan betapa beratnya hidup yang ia jalani.

Lalu ada pula yang memilih untuk menceritakannya hanya kepada-Nya.

Kemanapun kamu menghadap, disitulah wajah Tuhan… (QS. Al-Baqarah : 115)

Tuhan kamu (Allah) berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu.” Sesungguhnya orang-orang yang takabur dari menyembah-Ku, mereka akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan terhina. (QS. Al-Mu’min : 60)

Nah, jika selama ini kita mengenal seseorang yang belum pernah kita dengar keluh-kesahnya, bukan berarti ia tidak punya masalah. Ia punya. Bahkan mungkin saja masalah yang ia hadapi lebih besar dari masalah yang kita hadapi. Hanya saja, ia memilih menjadi orang-orang yang curhat kepada Rabb-nya. Dan itu adalah sebaik-baik pilihan.

Allah yang memberikan ujian, Allah pula yang akan menyediakan jalan-jalan solusi atas ujian tersebut. Percayalah!

Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan pada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-‘Ankabut : 69)

Ataukah hati kecilmu masih ragu dengan Tuhan-mu? Astaghfirullah..

Dan milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi, dan hanya kepada-Nyalah ibadah selamanya. Maka mengapa kamu takut kepada yang selain Allah? (QS. An-Nahl : 52)

Wallahu’alam bish Shawab.

Kebenaran hanya milik Allah semata.

Sudah ya, saatnya mengenakan salep-mata.^^

Iklan

12 thoughts on “Sakit Mata. Mata Sakit. (Hikmah)

  1. O ya, pas tahun 2009 kemarin gejala flu mata ini pernah saya alami juga. Tapi saya segera ke dokter mata, dikasih obat, alhamdulillah ga jadi parah. Ga sampe belekan. πŸ˜€
    Matanya sampe belekan kan ya?

    • Iya, Sop. Virus mata nie. Alhamdulillah lagi ngga shalat, jadi ngga banyak ngerasain efek “mata-serasa-mau-keluar”. Ini juga ketularan dari anggota keluarga. Saya orang ketiga dalam keluarga yang terkena virus ini. Lagi musim banget (katanya).

      AMin.. Alhamdulillah sudah lebih baik.

  2. AAAaaaaaaaaaaaaaa!!
    Turut berduka!! 😦
    Hiks… itu pasti “Flu mata” ya?? Matanya meraaaaaaaaah banget. Terus gejala sebelum sakit ini setiap kalo sujud pas shalat, mata rasanya sakit kayak mau keluar. Bener gak? Karena dibiarin, jadilah mata merah ini. 😦
    Iya, saya dulu pernah kena ini juga pas SMP, gara2 ketularan temen saya. Sampe perlu pake kacamata hitam. πŸ˜† Virus ini menular lho melalui sentuhan. Jadi sebisa mungkin jangan bersetuhan/kontak dengan orang lain. πŸ™‚
    Emang periiiiiiih banget kalo kena obat tetesnya. Hiks… πŸ˜₯
    Saya pernah merasakannya kok… Sampe2 ayah, ibu, adik saya, bahkan pembantu di rumah kena juga waktu SMP dulu…. ck ck ck….
    Moga cepet sembuh ya. πŸ˜€

  3. Yang susah bagi seorang laki-laki adalah menjaga mata agar tetap tertunduk…
    kalau melihat wanita seksi sekarang bisa memalingkan muka…

    tetapi melihat gadis yang santun dan berhijab malah seneng banget melihatnya…
    teduhh…

    hi hi hi…. salam kenal πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s