Ekspedisi Sumatera Barat

Berikut ini adalah perjalanan yang saya alami selama di Sumatera Barat. Petualangan yang seru dan tak terlupakan.

Minggu ( 2 Maret 2008 )

Siap-siap dari jam 04.30.Merapikan koper. Memeriksa kelengkapan. Makan roti bakar dan minum susu putih hangat di cafe hotel. Kemudian berangkat menuju bandara dengan Taxi. Ini adalah pengalaman pertama saya naik pesawat. Kami (saya dan papa) naik pesawat Mandala. Berangkat pukul 08.05. Ada rasa cemas pada saat pesawat pertama kali take-off. (Sensasinya!) Wah, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, betapa indahnya berada di atas langit! Awan yang berombak, laut yang mengharu-biru, dan pulau-pulau yang tampak mengecil hingga menghilang dari pandangan. Pesawat sampai di Padang sekitar jam 09.30. Tidak ada masalah yang berarti selama perjalanan di udara. Di bandara sudah menunggu Om Andi dan Etek Diah. Kami naik mobil Om Andi. Langsung menuju Sate Padang Mas Syukur. Enak! Apalagi dalam kondisi lapar melanda. (Duile..)

hm..enak tiada duanya..nambah donk!

Sate Mas Syakur emang TOP! Mau khan...^^

Setelah makan, kami berangkat ke Payakumbuh, rumah Amai. Pu3 bertemu dengan Amai, Etek Mama, Om Yon, Tony, dan Uni Meidi. Kami meletakkan barang bawaan, shalat dzuhur, minum kopi bersama, setelah itu bertolak ke Lintau.

Di Lintau, untuk pertamakalinya, pu3 melihat peternakan Ranco-Esperanza. Sapi-sapi yang ganteng dan cantik. Kotorannya yang menggunung (yaiks!). Rumput. Tanah milik Om. Bertemu dengan Pak Triono dan keluarganya. Tidak lupa, bertemu dengan kakakku yang tercinta, kak Iman.

Rambutnya tambah gondrong dan berantakan. Maklumlah, sedang menyabit rumput.. Jenggotnya makin mengalahkan kambing-kambing di kandang aja! Hehe.. Setelah lebih dari satu tahun tidak bertemu, akhirnya pu3 ketemu dengan kakak yang nyebelin sekaligus lucu itu.. Tidak banyak yang berubah dari kak Iman. Masih seperti yang dulu..
Sepulang dari Ranco kami makan malam di rumah Amai.
Malamnya, kami mengelilingi pasar Payakumbuh! Makan lagi..makan lagi..

Senin ( 3 Maret 2008 )

Pagi hari makan ketupat sayur. Masih lelah karena perjalanan kemarin hari. Karena papa berniat untuk membeli motor kredit, kami ke pasar Payakumbuh untuk melihat tempat kredit motor, namun karena sudah sore, maka tidak didapati yang buka. Kami balik ke rumah deh.. Oh ya, kami sempat makan bubur kampiun. Isinya campur-campur : ketan putih, ketan hitam, santan, kacang hijau, dll. (lupa) Tapi yang pasti enak!

Selasa ( 4 Maret 2008 )

Hari ini kami ke Lintau bersama dengan Om Yon dan mobil tuanya. Kembali untuk melihat situasi di peternakan sapi, Ranco-Esperanza. Di sana terdapat sebuah kandang sapi yang memuat 14 ekor sapi. Sapinya besar-besar dan gemuk. Namun amat disayangkan, ada satu sapi yang kakinya sakit hingga tidak bisa berjalan.

Rabu (5 Maret 2008)

Dengan mengendarai si-hitam, motor King, saya dibonceng kak Iman ke Sarik Laweh. Kakakku itu ya.. Kalau mengendarai motor, ngebut-ngebutan. Syerem buanget! Sepanjang perjalanan jadi was-was dengan cerewet mengingatkan kakak : “kak, hati-hati donk!!!”

Sarik laweh begitu indah. Berada ditengah-tengah pegunungan dan hamparan sawah. Udara yang sejuk dan penduduk yang ramah serta saling mengenal. Di sana kami bertemu Nek Zul, Etek Ne’, Om Sudir dan istrinya. Tidak lupa kami mengunjungi rumah Om Jun. Namun ia tidak bisa ditemukan. Kami tidak lama berada di Sarik Laweh. Saya pun merasa asing di kampung sendiri. [ya iyalah! ini kan pertama kalinya saya kesini dan baru juga beberapa jam!]

Setelah itu, kami kembali ke rumah amai. Di sana kak iman bertemu amai dan bercakap-cakap.
Malamnya? Ke pasar payakumbuh donk.. Makan-makan lagi..(Nyum!)

Kamis ( 6 Maret 2008 )

Kalau bisa disimpulkan, ini adalah hari paling mengesankan! Hari ini saya betul-betul menyadari BETAPA INDAHNYA tanah sumatera.

Ke Kubang

Hari ini papa menepati janjinya untuk membawa saya ke kampung nenek-ibu-ku [neneknya mama], Kubang. Kami berangkat menggunakan sepeda motor sewaan. Ditengah-tengah perjalanan, hujan mendera. Hujan yang cukup deras. Kami pun menepi sejenak, bukan untuk berteduh, namun untuk mengenakan jaket anti-hujan. Kemudian kami pun melanjutkan perjalanan. Waktu yang sempit membuat kami teguh hati untuk melanjutkan perjalanan ke Kubang ditengah-tengah terpaan hujan. Jalanan berkabut dan jarak pandang menyempit.

Begitu mendekati daerah Kubang, hujan mulai mereda. (Alhamdulillah) Tepat waktunya shalat Dzuhur, sehingga saya bisa langsung shalat di masjid depan rumah. Menurut penuturan Mama, di masjid itulah Nenek-ibu (ibu dari nenek) biasa shalat subuh. Nenek-ibu merupakan sosok muslimah yang taat di kampungnya. Ia konsisten melaksanakan shalat subuh di masjid dan mengaji. Belakangan saya baru mengetahui kalau nenek-ibu ini adalah seorang yang perkataannya sangat berpengaruh di kampung.

Selesai shalat, kami silaturrahim ke rumah keluarga mama. Di rumah itu kami menemui seorang ibu penjaga rumah. Rumah padang kami cukup, bahkan sangat, sederhana. Dengan dua buah kamar. Dinding kayu yang sudah berumur dan reot. Dapur yang berdebu. Di belakang rumah ada kolam dan pohon kelapa. Inilah tempat yang akan pintunya senantiasa terbuka lebar untuk saya. (keturunan perempuan memiliki hak lebih dalam budaya orang sumatera barat)

Saya merasa sangat nyaman berada di rumah itu. Ada kedamaian dalam kesederhanaan ini. Sosok nenek-ibu pun berkelebat dalam benak. Nenek-ibu, seorang yang belum begitu saya kenal, namun satu yang terekam dalam ingatan, yaitu ia senantiasa memegang alQuran. Bahkan ketika ia sedang menyapu halaman. Tangan kanannya memegang sapu lidi, tangan kirinya memegang alQur’an erat-erat. Subhanallah…

Ke Harau

Setelah puas silaturrahim di kubang, kami pun melanjutkan perjalanan. Papa menawarkan kepada saya untuk sebuah jalan-jalan berkeliling sumatera barat, walau ditengah hujan yang timbul-tenggelam. Saya sih sepakat sekali! Kapan lagi saya berkeliling di sumatera barat. Lanjut..!
Dingin yang melanda membuat perut kami mudah kelaparan. (menguntungkan buat saya! hehe..) Kami pun berhenti di rumah makan pilihan papa yang pastinya spesial dalam citarasa. Hm..enaknya makanan-makanan di sumatera barat. Daging dan santan dimana-mana. (tapi kalau terlalu banyak, jadi tidak baik untuk kesehatan loh) Kebetulan saya lagi ada proyek : meningkatkan berat badan. Dan kebetulan dibayarin papa, jadi : sikat aja! (ups! tapi ngga berlebihan lah ya..)

Makan selesai, kami langsung tancap gas menuju Harau. Cara Papa mengendarai motor, lebih cepat daripada kak Iman! Kebut!!! Belum lagi jalur jalanan yang ekstrim penuh dengan tukikan, tanjakan, dan belokan maut! Jadi saya pun menguatkan pegangan tangan saya pada perut papa yang bundar. (hekeke..) Tapi berbeda dengan kak Iman, kalau di bawah kemudi papa saya merasa aman. Papa sempat bertanya, “Gmn,put? Takut ngga’ dibonceng papa? Jangan2 kamu sudah mengompol di belakang ya? Haha!!!” Saya menjawab dengan keras, “Ngga kok! Seru!! Seru!! 1,5x lebih seru daripada Jetcoaster di DUFAN!” Emang bener-bener seru loh! Dufan kalah!!

Kami melewati jalan panjang yang sepi, berkabut, dan ditemani hujan yang kadang merintik kadang mengguyur. Saya pun mulai merasa kedinginan. Rasanya perjalanan ini tidak berujung saja.
Lama..
Kanan-kiri jalan dipenuhi tanaman-tanaman bambu, dan diselingi pemukiman penduduk. Hingga suatu waktu, setelah sekian puluh menit. Pemandangan berubah! Di kiri-kanan jalan yang ada adalah hamparan sawah yang diujung-ujungnya berdiri tegak pegunungan dan perbukitan. Saya pun sontak berseru kepada papa, “wah?! indah banget,pa!!!” Papa pun semakin semangat menderu motornya.

Sepanjang jalan menuju Harau

Sepanjang jalan menuju Harau

Saya sibuk menolehkan kepala ke kanan dan kiri. Seakan takut untuk melewati satu inchi pun dari kebesaran Allah ini. Subhanallah, betapa indahnya alam-Mu..

Indahnya "lukisan" Allah..^^

Welcome to jurrasic park!

Eits, tunggu dulu! Ternyata ini belum seberapa. Selang beberapa lama, kami berada di lembah. Di kanan-kiri adalah lereng bukit. Hyaaa!!! Serasa di Jurrasic Park! (mana dinosaurusnya nih?)

Lembah Harau

Hi..lerang yang mencekam..Dimana dinosaurusnya ya?

Semakin ke dalam, semakin terasa nuansa jurassic parknya karena lereng-lereng itu semakin menghimpit. Dan sempat ada rasa ngeri dalam hati. Tidak lama, tibalah kami di air terjun yang mengalir disela-sela lereng. Ini adalah objek wisata utamanya. Di sisi kanan jalan adalah air terjun, dan di sisi kiri jalan ada kios para pedagang. Kami menepi disini. Beristirahat sambil menikmati indahnya alam lembah Harau.

Harau Berkabut

Harau diselimuti kabut. Semakin fenomenal.

Rupanya ada beberapa turis asing disini. Air terjun yang indah dan dekat. Saya sampai-sampai bisa memegang curahan air terjunnya langsung. Wajah pun diterpa cipratan air terjun. Beberapa bocak terlihat sedang bermain di bawah air terjun. (tidak semua air terjun seaman ini loh!)

air-terjun-harau

air-terjun-harau

air-terjun-harau2

air-terjun-harau2

Relatif aman

Relatif aman

Saya naik ke atas salah satu lereng dengan ditemani seorang anak pedagang kios, fani namanya. (he..mirip dengan nama siapa ya??!) Fani yang menemani saya sampai di puncak lereng. Perjalanan yang cukup berbahaya. Walau sudah ada anak tangga dari semen dan pegangannya, tetap saja tidak menghilangkan bahaya karena curamnya medan. Dari bawah saya sudah berbekal tiga plastik kacang-kacangan. (untuk “teman-teman” diatas sana)

Sesampainya di atas, setelah perjalanan yang beresiko, saya bertemu dengan “penghuni” puncak lereng. Mereka adalah sekawanan monyet-monyet. Awalnya mereka bersembunyi. Namun kacang yang saya bagikan nampaknya cukup menarik perhatian mereka. Mereka pun berebutan mengambil kacang yang saya lempari satu per satu. Sampai-sampai, ada seekor monyet yang cerdas (dan saya yang lengah) mengambil satu bungkus kacang yang ada dalam genggaman tangan kiri saya!

Kami pun turun dari puncak lereng dengan penuh kehati-hatian. Lebih menakutkan untuk turun daripada naik. Sesampainya dibawah, saya melanjutkan minum teh di kios pedagang bersama papa. Setelah shalat ashar di sana, kami melanjutkan perjalanan menuju payakumbuh (pulang)

Dan panorama Tabek Patah.

Ditengah perjalanan pulang, kami melewati suatu papan informasi yang bertuliskan : “panorama Tabek Patah”. Karena penasaran, kami pun melaju kesana. Ternyata disana kami mendapati suatu pemandangan yang indah. Pemandangan dari puncak lereng. Kami bisa melihat daerah sekitarnya dengan jelas. Bukit yang berbaris, rumput yang menghijau, langit yang membiru. Subhanallah.. Tidak berlama-lama disana. Kami pun (benar-benar) pulang menuju Payakumbuh.

Panorama Tabek Patah

Panorama Tabek Patah

Malamnya, kami ke pasar Payakumbuh lagi untuk makan sate..^^

Jumat ( 7 Maret 2008 )

Hari ini saya dan papa kembali ke Lintau untuk pamit dengan kak iman. Saya harap, saya bisa berkumpul lagi dengan kakak dan adik saya. (terpencar-pencar, euy!)

Sepulang dari Lintau, papa mengambil rute yang memutar. Memutari gunung Sago (gunung dimana daerah Lintau berada). Ternyata cukup jauh. Tapi lamanya perjalanan terbayarkan dengan pemandangan yang indah. Kembali, bukit yang berarak dan hijaunya hamparan sawah.

Ditengah perjalanan, tepatnya di pinggir jalan besar Koto Baru, setengah jam sebelum Bukittinggi, kami makan bika khas daerah ini. Namanya bika siMariana. Untuk teman2 yang pernah makan bika ambon. Jangan disamakan! Karena jauh berbeda.

Bika Si Mariana

Bika Si Mariana

Hm...sedapnya..

Hm...sedapnya bika kelapa..

Sabtu (8 Maret 2008)

Hari ini ke Bukittinggi membeli oleh-oleh. Sempet lihat jam gadang.Dan sempat berkunjung ke Ngarai Sianok (bertemu dengan sekawanan monyet lagi!), terakhir kami beristirahat di suatu bukit di dekat payakumbuh (lupa namanya). Dari sana, kami bisa melihat kota payakumbuh. Malamnya, ke pasar payakumbuh lagi.. Makan-makan..^^ Terakhir nih.

ngarai-sianok

ngarai-sianok

Monyet di Ngarai Sianok

Monyet di Ngarai Sianok

Jam Gadang di Malam Kemerdekaan 2008

Jam Gadang di Malam Kemerdekaan 2008

Minggu ( 9 Maret 2008 )

Kembali ke JKT. Dengan menaiki pesawat jam 17.30. Saya berangkat dari rumah amai (payakumbuh) dengan langkah berat. Berat meninggalkan kota yang begitu indah ini. Tapi apa daya, hidup harus terus berlanjut.

Travel yang dinanti akhirnya datang pada pukul 13.00. Saya pun pamit dengan amai dan papa. Dalam travel itu, sudah ada dua orang penumpang. Semuanya berkomunikasi dengan bahasa padang, yang saya tidak mengerti. Supir travel di sumatera barat terkenal suka kebut-kebutan. Dan benar saja, sepanjang perjalanan, pak supir senantiasa menancap gasnya. Begitu pula dengan kendaraan-kendaraan lain yang berseliweran. Ini membuat saya berpikir dua kali jika ingin mengendarai motor di sumatera barat. Mengerikan!

Di bandara, saya meminta kepada mba-mba di meja check-in, sebuah posisi yang nyaman : didekat jendela. Alhamdulillah, walaupun berada di bagian belakang, masih tersedia posisi yang saya inginkan itu.

Pemadangan terlihat indah sekali dibalik jendela ini. Pantulan bulan menyinari sayap pesawat. Hingga kemilaunya pun terlihat jelas. Ternyata di belakang juga indah kok. Walau suara mesin pesawat lebih menderu.

Tidak lama, tidak terasa, cahaya rembulan tidak tampak, pesawat sudah berada ditengah-tengah gumpalan awan yang kasar. Jalannya pesawat tidak semulus yang sebalumnya. Pesawat terbang dengan bergetar-getar, seakan-akan menabrak sesuatu. (ternyata awan itu padat loh..tidak seperti kapas) Awan kali ini tidak seperti awan biasa. Ia padat. Gelap dan kelam. Namun ditengah-tengah, terlihat kerlap-kerlip memerah. Awalnya saya bertanya-tanya : “loh, apa itu yang kemerah-merahan?” Tidak lama, pertanyaan saya terjawab. Ternyata itu adalah kilatan petir yang menyambar-nyambar. Dan.. pesawat kami berada di tengah-tengahnya. Sungguh menakutkan! Ya, Allah.. pemandangan yang gelap berubah menjadi permainan petir. Merah menyala disana-sini. Saya sempat terdiam menyaksikan betapa dahsyatnya kekuatan Allah. Hati ini bergetar ketakutan, pertanyaan itu menggelayuti hati. “Ya Allah, inikah saatnya? Inikah akhir dari perjalananku di dunia?”

Saya pun tidak kuat melihat kilatan-kilatan yang saling sahut-menyahut itu. Akhirnya, saya tutup jendela-dalam pesawat. Sehingga saya tidak bisa melihat pemandangan yang mencekam diluar sana. Saya pun banyak-banyak berdoa..Semoga Allah masih memberikan saya waktu di dunia ini. Untuk mengabdi kepada-Nya. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada sang pilot agar dapat menerbangkan pesawat dengan baik. Harap-harap-cemas saya berdoa. Begitu pula dengan penumpang di sebelah saya. Raut wajah di sekitar menampakkan kekhawatirannya. Pramugari pun mengingatkan untuk mengencangkan ikat pinggang dan memperingati bahwa “untuk keamanan, lampu kabin akan dimatikan.” Ya Allah, semakin mencekam saja suasana di dalam sini. Berikan kami pertolongan-Mu..

Doa terus saya panjatkan. Hingga akhirnya, terasa penerbangan begitu mulus. Tidak lagi ada goncangan-goncangan, tubrukan-tubrukan dengan awan. Jendela-dalam pesawat pun saya buka. Lalu terlihatlah langit yang cerah. Sayap pesawat kembali memantulkan cahaya rembulan. Gemerlap cahaya jakarta pun terlihat di kejauhan.

Alhamdulillah.. terima kasih, ya Rabbii..

Cumolonimbus

Cumolonimbus, kini ku tahu rasanya berada ditengah-tengahmu.

Diatas sana jauh lebih mengerikan, kawan!

Diatas sana jauh lebih mencekam, kawan!

Iklan

14 thoughts on “Ekspedisi Sumatera Barat

  1. assalamualaikum…

    saya belum pernah ke padang, dan butuh informasi, bisakan saya berkirim email japri ? tolong info via email saya.

    terima kasih

    wass

  2. wah.. tulisan ini bikin saya jadi rindu kampung halaman….
    makanan di pasar payakumbuh rekomendasi saya adalah, Martabak Mesir si Wan sama nasi goreng Bofet Sianok, silahkan dicoba

  3. kirain ini postingan yg dulu… ternyata beda…
    ok Bu, postingan ini membuat sy memasukkan Sumatra Barat sbg daerah yg harus dikunjungi tahun ini!!!! *Jawa udah habis :D*

    Sumbar juga uda sih… tp singgah n numpang lewat doank T__T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s