Duhai ayah dan ibu.. Mengapa engkau berkata seperti itu? (Keteladanan dalam Keluarga)

Sore itu, menjelang magrib, penerimaan penghuni baru Asrama Putri ITTelkom tahun 2007 pun selesai. Pengumuman nama-nama yang lulus pun telah ditempel.

Seperti biasa, ada saja orang tua yang tidak mau menerima hasil keputusan tim wawancara. Dan mau-tidak-mau, aku pun harus bersiap jika ada kasus seperti ini.

“Mba pu, ada orang tua yang komplain tuh! Mau minta penjelasan kenapa anaknya tidak diterima!” seru seorang pengurus kepadaku.

“Duuhhh.. Lagi-lagi.. Adaa saja yang komplain,” keluhku dalam hati.

“Dimana orangnya?” tanyaku.

“Di lobi utama, mba” jawabnya.

Lalu aku pun bergegas kesana. Tanpa harus bertanya, tampaknya satu orang ibu itulah yang komplain. Terlihat jelas urat wajah “protes” menghias. Di sampingnya ada dua anak putri, para calon mahasiswi baru yang tidak diterima masuk Asrama Putri.

“Bu, saya pengurus Asrama Putri. Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku. Berusaha tetap dapat mengukir senyum, walau lelah mendera.

“Kenapa anak dan keponakan saya tidak diterima sebagai penghuni ya?” tanya ibu dengan nada menuntut dan memojokkan saya.

“Apakah anak ibu sedang menunggu pengumuman SPMB?” lanjutku bertanya. (SPMB = Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru. Proses seleksi untuk memasuki Universitas-Universitas negeri di Indonesia)

“Iya!” jawabnya ketus.

“Oh, kalau begitu.. itulah sebabnya, bu. Kami lebih memprioritaskan teman-teman yang tidak mengikuti SPMB untuk diterima sebagai penghuni. Ngga perlu khawatir, bu. InsyaAllah kita buka lagi rekruitasi gelombang kedua. Dan jika memang kedua anak ibu nanti memutuskan untuk kuliah disini, keduanya bisa mengikuti rekruitasi gelombang kedua tersebut. Ibu bisa datang pada hari pertama, pagi-pagi sekali. InsyaAllah kemungkinan diterimanya besar, bu. Karena kami memang mengalokasikan kamar-kamar kosong untuk gelombang kedua.”

Ibu pun langsung menyambut penjelasan saya dengan nada meninggi, hingga menggema di seluruh ruangan, “Tapi saya dengar dari teman-temannya yang diterima, mereka banyak yang bohong kok! Mereka ikut SPMB, tetapi mengaku-ngaku ngga ikut. Sedangkan anak saya ini?! Mereka jujur. Tapi kenapa yang jujur malah tidak diterima? Kalau begitu, lebih baik mereka berbohong saja agar diterima?!!

Deg! Hatiku tersentak.

Dunia terasa berputar.

Waktu serasa berjalan begitu lamban.

Satu-per-satu wajah orang-orang disekitar kami menoleh. Dapat kurasakan tatapan mata disekitar yang mulai fokus kepada kami. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Tampaknya mereka menunggu reaksi dariku.

Tak terbayang sebelumnya aku kan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Tapi aku tahu bahwa aku harus menjawab, “Kami tidak bisa berbuat apa-apa terhadap mereka yang berbohong, bu. Sabar ya, bu.. InsyaAllah kedua adik ini akan mendapatkan balasan yang lebih baik. Allah akan membalas kebaikan hamba-Nya dengan kebaikan. Semoga kedua adik ini diterima di SPMB…” (kedua adik itu pun meng-amin-i doa saya)

Akan tetapi ibu itu tidak mau kalah, “Tapi nanti jika mereka tidak diterima SPMB, lalu akhirnya masuk ITTelkom, bagaimana? Saya tidak akan mengizinkan mereka kuliah di BDG kecuali jika mereka tinggal di Asrama!”

Perlahan aku menghela napas. Lalu aku kembali menjelaskan dengan sopan (tetap berusaha untuk menjaga emosi), “kan tadi sudah saya bilang, bu. Silahkan ibu dan adik-adik datang pada hari pertama rekruitasi gelombang dua. Ibu datang jam8 pagi, diawal pembukaan. InsyaAllah, ada kamar yang masih kosong.”

Tapi ibu itu tetap saja berkoar. Akhirnya Elis, seorang pengurus lainnya, pun turun tangan.

Aku tidak serta-merta melarikan diri. Beberapa menit aku terpekur disana. Sembari berusaha menetralisir emosi yang mengalir, aku “pasang badan” untuk menghadapi komplain-komplain yang mungkin akan muncul setelah ini.

Tak lama salah satu dari kedua anak itu kembali menemuiku. Aku masih ingat sekali wajahnya. Bahkan sampai kini ku hapal namanya. Ia berkata, “Maafkan kami ya, teh. Kami sudah menyusahkan teteh. Doakan semoga kami lulus SPMB ya, teh..”

Senyum pun terkembang dari kedua sudut bibirku dan aku berkata, “Iya, maafin juga klo teteh salah. Semoga sukses ya! Nanti kalau jadi masuk di ITTelkom, adik datang di hari pertama rekruitasi gelombang kedua ya!”

Dalam hati ku berujar, “Alhamdulillah..”

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Kalimat bernada keras yang diucapkan ibu itu masih terngiang-ngiang dalam pikiranku. Dihadapan kedua anaknya, ia berkata :

Kalau begitu, lebih baik mereka berbohong saja agar diterima?!!

Astaghfirullah… Apa yang akan tertanam dalam diri anak, jika ibunya berkata seperti itu? Mungkin saja ia emosi atau bahkan sengaja menyudutkanku dengan perkataan tersebut. Tapi itu semua tidak dapat dijadikan suatu pembenaran atas perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan semacam itu.

Orang tua adalah teladan bagi anaknya. Teladan yang akan ditiru. Walau sayangnya, tidak hanya hal yang baik yang biasanya diteladani anak. Atau sebaliknya, tidak hanya hal yang baik yang diajarkan orang tua. Sadar ataupun tidak.

Saya jadi teringat tulisan pak Sallim A. Fillah tentang pengaruh perkataan orang tua dalam perkembangan anak  dalam tulisannya : Qaulan sadiida untuk anak-anak kita.

Entah mengapa tiba-tiba aku ingin berbagi kisah ini. Mungkin karena banyak contoh di sekitarku yang menunjukkan betapa orang tua bertindak tidak selayaknya “orang tua”.

Ya.

TIDAK SEMUA ORANG TUA SIAP MENJADI “ORANG TUA”.

Bagaimana dengan anda (dan saya) ?

Iklan

11 thoughts on “Duhai ayah dan ibu.. Mengapa engkau berkata seperti itu? (Keteladanan dalam Keluarga)

  1. ehe, si ibu bisa aja deh
    mana tau kan kita klo yg diterima itu ada yg boong…
    kan ga ada stempelnya

    klo tau boong ya enggak diterima atuh…

    =D

  2. Assalamualaikum teh putri… Aku juga alumni STT Telkom lho (sebelum jadi ITTelkom…) Salam kenal yaaa… Aku tyas, tahu blog ini dari milis ESQ. Semoga istiqomah dalam kesabaran mengurus asrama yaaa… Memang benar, menjadi orang tua itu harus bisa jadi panutan juga. Semoga kita termasuk ortu yang bisa jadi sebaik-baik panutan untuk anak-anak kita tercinta…

    amien…

    • Wassalamu’alaikum, mba Tyas. (atau “ibu”? kan mba tyas sudah punya anak. hehee.. saya baca di blog mba)

      Alhamdulillah.. sudah tidak jadi pengurus lagi mba. 😀 Tapi kesabaran mah selalu diperlukan dimanapun dan kapanpun.
      Amin. Semoga bisa menjalankan amanah sebagai orang tua dengan baik.

      Salam kenal, mba Tyas.
      Salam 165! ^^

  3. ak kurang suka dgn kalimat:
    1. “Kenapa anak dan keponakan saya tidak diterima sebagai penghuni ya?” tanya ibu yang berlogat suara khas MEDAN.
    2. “Tapi ibu itu tetap saja berkoar. Akhirnya Elis, seorang pengurus yang berasal dari MEDAN, pun turun tangan. Ternyata gaya MEDAN harus “dilawan” dengan gaya MEDAN juga ya! Hahaa..”

    SEPERTI MENDESKREDITKAN KOMUNITAS TERTENTU..

    • Ok deh romaito..
      Saya minta maaf nie.. Kalau ternyata ada yang salah. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya menulis berdasarkan pengalaman hidup saya bersama orang-orang yang berasal dari Medan. Dan mereka memang berasal dari Medan.
      Baik. Maafkan saya. Saya salah karena secara tidak sengaja dan tanpa maksud tertentu telah melakukan generalisir. Sehingga ada pihak-pihak yang merasa terdiskreditkan atas tulisan saya.
      Tuh.. Sudah saya hapus, to.
      Maaf yaa..^^
      Dan terima kasih karena telah mengingatkan.

      Keep on writing! (Hufff… Menyemangati diri sendiri supaya ngga kapok menulis! Hahaa..)

      Tambahan : ternyata menulis kata “terdiskreditkan” itu agak susah, loh.

  4. hoho, banyak org beranggapan, kalo uda harus jadi org tua. harus siap punya 2 kararkter berbeda. karakter di depan anak2, dan ketika ga di depan anak2… si sayah ga setuju ama pendapat ini..

    btw, Salim A. Fillah kok di panggil ‘Pak’??

    • Orang-orang yang beranggapan seperti itu harus siap akan konsekuensi bahwa sang anak akan memiliki dualisme karakter antara ketika di depan orang tua dan tidak di depan orang tua. Semoga orang-orang yang beranggapan seperti itu menyadari betul konsekuensi atas tindakannya.

      Tentang Sallim A. Fillah. Saya sapa beliau dengan “pak”, karena saya menghormati beliau, euy. Jadi kepingin aja gitu.. 😀
      Tapi di komentar terakhir saya di blog beliau, akhirnya saya menggunakan “akhi”. Namun saya justru merasa janggal memanggil “akhi”, mungkin besok-besok saya akan gunakan “pak ustadz” kali yaa.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s