Antara Sabar dan Tawakkal

“Alangkah bagus ganjaran orang-orang yang bekerja (baik). (Yaitu) mereka yang sabar, dan hanya kepada Rabb mereka bertawakkal.” (Al-Ankabut : 58-59)

DR.Yusuf Qaradhawi, semoga Allah melimpahkan rahmat dan karunia kepada beliau, dalam bukunya – Sabar Sifat Orang Beriman –  menuturkan, “Dipadukannya antara sabar dan tawakkal ini karena keberhasilan manusia dalam mewujudkan cita-citanya bergantung kepada dua hal. Pertama, sesuatu yang berada dalam batas kemampuan dan kesanggupannya. Seperti upaya yang dapat dikerahkan secara maksimal, beban yang dapat dipikul, dan kesulitan-kesulitan yang dapat diatasi. Semua ini memerlukan kesabaran. Kedua, sesuatu yang di luar kesanggupan dan kemampuannya; yang masih ghaib baginya dan masih “disimpan” oleh taqdir, seperti bencana-bencana alam, kondisi eksternal, dadakan-dadakan yang insidental yang tak terkirakan, dan “angin” yang tidak sejalan dengan tujuan bahtera. Menghadapi hal ini, seorang Mu’min tidak dapat berbuat apa-apa kecuali harus bertawakkal kepada Allah, kembali kepada-Nya, dan percaya terhadap perencanaan-Nya.”

……

Ah, aku jadi teringat akan sebuah cita. Cita yang tertanam semenjak aku semester satu di kampus, menjadi asisten praktikum. Waktu pun berjalan. Sudah semester tujuh. Dan cita itu masih tertanam dalam benak, tergambarkan dalam bayangan. Cita itu sudah di pelupuk mataku! Tahapan-tahapan pun ku lalui.

Satu.
Lolos. (Yes!)
Dua.
Lolos. (Aku pasti bisa!)
Tiga.
Lolos. (Siip lah..)

Tinggal satu langkah lagi. Sedikit lagi, sahabat!

Tapi apa daya. Pada waktu yang bersamaan, aku harus bertolak dari BDG. Untuk suatu hal yang lebih utama ku prioritaskan saat itu, keluargaku. Berat. Sangat. Aku sudah berusaha negosiasi. Namun alasanku tidak diterima.

“Ya sudahlah. Mungkin bukan rejekiku. InsyaAllah ada rejeki yang lain dari-Nya.” Nuraniku berkata. Berusaha menenangkan batin yang bergejolak.

Apakah selanjutnya Allah memberikan rejeki yang lain sebagai pengganti? Ya. Alhamdulillah. Bahkan kemudian Allah memberikan jalur-cepat. Tak pernah ku sangka aku ditawari amanah itu, menjadi asisten lab. Ditawari! Ku ulangi, D-I-T-A-W-A-R-I. Tanpa perlu jalur tahapan yang panjang membentang! MasyaAllah..

Apakah tawaran itu aku ambil? Tidak. Karena aku tahu, ada amanah lain yang perlu ku prioritaskan saat itu. Ku tahu sejauh mana kemampuanku. Sadar diri. “Aku tidak mampu mengurus dua rumah dalam satu waktu“. Tapi “berat” itu masih ada. (Bukankah kesabaran itu adalah dhiya, cahaya yang tajam membakar dan panas?)

Lalu apakah selanjutnya Allah memberikan rejeki yang lain sebagai pengganti? Ya. Alhamdulillah. Pada semester delapan, aku diterima kerja. Dan kali ini aku berkesempatan mengambil peluang itu.

Ada lagi sebuah kisah dalam hidupku. Sebuah mimpi tercetus lewat beberapa orang dengan visi yang sama, menatap wajah-Nya melalui alam ini. Petualangan yang akan mendebarkan; mendaki gunung Gede dan Pangrango. Berbulan-bulan terulur, berkali-kali menyocokkan jadwal. Lalu ketika semuanya sudah rapi; informasi sudah didapat, perlengkapan sudah disiapkan, pemandu yang semakin bersemangat. Sudah izin sana-sini. Lalu sekali gagal, ada yang berhalangan, dengan agenda dadakan yang patut diprioritaskan. Kemudian gagal lagi, adikku sakit tipes. Hingga kini, agenda itu belum berjalan. Entah kapan, ku tak tahu. Sudah cukup ku berusaha. Ku yakin ada sesuatu dalam kehendak-Nya. Sekarang ku menanti datangnya jawaban indah dari-Nya, “kenapa mimpi ini belum bisa dijadikan kenyataan?”

Namun ada satu hal yang luar biasa yang terjadi diantara kami, para pemimpi yang diuji. Tanpa suatu diskusi, kami memetik ibroh yang sama. Persis! Pengorbanan dan husnudzon kepada-Nya. MasyaAllah..

Bukankah kisah-kisah seperti ini banyak kau temukan dalam hidupmu, sahabat? Namun sudahkah kau mengambil hikmahnya?

……

Ah, banyak yang belum ku mengerti dalam hidup.
Pertanyaan-pertanyaan itu,
ada yang sudah kutemukan jawabannya,
namun kebanyakan malahan belum.
Dan sementara pertanyaan itu menggantung,
muncul pertanyaan-pertanyaan baru.

Namun satu ku yakini,
di ujung jalan ini,
suatu hari nanti,
jawaban itu akan datang menghampiri.

Dan di ujung jalan ini,
suatu hari nanti,
aku akan berkata, “Alhamdulillah.. terima kasih ya Rabb..”

InsyaAllah..
InsyaAllah..

……

Tangga-tangga ini..

Entah kemana mereka akan membawaku.

Kadang ku takut dengan gemuruh dalam dada ini.

Kadang ku merinding dengan pikiran-pikiran ini.

Tangga-tangga ini..

Entah kemana mereka akan membawaku.

Ku hanya terus menapak, melangkah, menanjak.

Bukankah hanya itu tugasku?

(Mendaki – Jakarta, 04 Agustus 2009)

Iklan

8 thoughts on “Antara Sabar dan Tawakkal

  1. put..rasanya cocok dengan perasaanku yang berat karena mimpi tak tercapai… pasti Allah menunjukkan yang terbaik bahkan lebih baik dari ini… Aku percaya dan harus percaya… Allah sutradara yang Hebat skenarionya jauh lebih indah dari cuma sekedar keinginan-keinginan sesaat yang belum tentu baik bagiku… Oh rasanya bagai dunia runtuh mengingat mimpi yang tak tercapai… tpi runtuhnya dunia bukan akhir dari segalanya bahkan itulah awal membangun kembali mimpi… jika runtuh lagi… (kasian amat sih ^_^) berarti itu bukan mimpi yang terbaik untukmu..mungkin Allah cemburu karena kita lalai mengingatnya cuma sekedar mengejar mimpi… Allah pengatur yang baik bahkan sangat profesional… kan kugapai mimpiku yang lain kan kuusahakan mimpiku terwujud… mimpi tinggallah mimpi tapi dengan mimpi kita bisa bangkit berdiri mencari keyakinan yang lebih pasti… oh meski berat kan kuulangi membangun mimpi-mimpi yang bukan sebuah mimpi tapi jadi kenyataan…

    • Dear dani,
      Jangan pernah berhenti untuk bermimpi. (bukan berkhayal loh!)
      Seorang manusia yang hidup tanpa impian, bagaikan robot yang hanya menjalankan rutinitas yang ada.
      Mendefinisikan ulang mimpi tidak ada salahnya. Karena terkadang, disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, kita sempat mendefinisikan mimpi yang sebetulnya semacam berkhayal. “Keinginan-keinginan sesaat”, itu bahasa yang dani gunakan.
      Fokus, dan.
      Fokus.
      Tiap orang punya kelebihan dan kesempatan masing-masing.
      Teruslah bermimpi dan berusahalah dengen sungguh-sungguh untuk mencapai impianmu, sahabatku! ^^

  2. Hm… sail bunaken,
    event 12-20 agustus kemarin…
    ada pameran, kapal perang pada ngumpul, ada pameran makanan jg, lomba2, olah raga, rekor penyelam terbanyak, rekor upacara bawah air terbanyak, dll lah..

    Hm, sepakat. sama kayaknya, beda cara nulisnya aja..

  3. haha, apa persamaan sabar dan tawakal? kedua2nya baur bisa dilakukan setelah terlebih dahulu berusaha! Misalnya lagi naik mobil, trus ada pohon tumbang merintangi jalan… trus kita duduk di mobil, nunggu sesuatu terjadi sehingga pohon itu pindah… itu mah bukan sabar ato bukan tawakal namanya.

    Tapi kita turun dari mobil, kita angkat tuh pohon, tanpa menggerutu, ikhlas… ini baru sabar namanya. Klu pun kita ga sanggup, baru setelah kita berusaha kita boleh bertawakal…

    Btw, senasib nih. Minggu lalu, saya gagal ke sail bunaken, padahal surat2 n administrasi uda lengkap semua TT

    • Shiddieq : “ke sail bunaken”?
      Saya : mungkin maksudnya “sail ke bunaken”? Kalau saya, tidak jadi ke Gn.Gede, tapi alhamdulillah seminggu yang lalu jadi ke Pangandaran. 🙂

      Shiddieq :
      “Turun dari mobil, mengangkat pohon, tidak menggurutu, ikhlas.. Ini namanya sabar”
      Saya :
      Coba lebih perhatikan pendapat DR.Yusuf Qaradhawi yang bagian ini :

      Pertama, sesuatu yang berada dalam batas kemampuan dan kesanggupannya. Seperti upaya yang dapat dikerahkan secara maksimal, beban yang dapat dipikul, dan kesulitan-kesulitan yang dapat diatasi. Semua ini memerlukan kesabaran.

      Bukankah yang Shiddieq maksudkan sesuai dengan ini?

      • ke Sail Bunaken… nama event nya ‘Sail Bunaken’, seriusan kamu ga tau?

        Yap, sama mungkin, cuma menekankan ualng bahwa harus berusaha dulu, kan kita ga tau batas kemampuan dan kesanggupan kita kalo belum coba diangkat… ga ada kata ga bisa klu belom coba = ga ada istilah bersabar klu belum berusaha… cmiiw

      • “Sail Bunaken”? Saya belum tahu.

        Shiddieq : “ga ada istilah bersabar klu belum berusaha”
        Saya : salah satu bentuk bersabar adalah “sabar dalam menjalani prosesnya”. Maksudnya adalah dengan terus berusaha, memaksimalkan ikhtiar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s