“Outliers”, Rahasia Di Balik Sukses, oleh Malcolm Gladwell

Karena sang penulis sukses memikat hati saya dengan bukunya, Blink, maka hanya perlu dua detik saja bagi saya untuk memutuskan untuk membeli buku baru dari Malcolm Gladwell, Outliers, seketika setelah sayamelihat poster tentang buku baru ini.

Outlier dari kamus.net artinya : deviasi dari rata-rata.

Kalau menurut Pak Soewono, dosen Statistik saya, outlier = pencilan.

Buku ini saya beli di Pesta Buku Jakarta, Juli 2009, dengan diskon 20%!!! ^^

Hm.. saya kira sekian saja untuk pembukanya. Kini lanjut ke bagian terpenting : resume.

*******************************************

outliers

OUTLIERS

“RAHASIA DI BALIK SUKSES”

Jika sebagian besar buku-buku sukses yang pernah saya baca bertutur panjang-lebar tentang “meretas jalan sukses” dari dimensi “bekerja keras”, maka buku yang satu ini justru berbeda.

Buku ini membuka mata saya bahwa sebuah “sukses” itu terlalu rumit untuk ditinjau dari dimensi “bekerja keras” saja. Ada dimensi-dimensi lain yang pada akhirnya akan mengantarkan seseorang se-kaliber Bill Gates (pendiri Microsoft), Bill Joy (pendiri Sun Microsystems), hingga grup band legendaris The Beatles.

Dimensi-dimensi itu adalah kesempatan dan budaya.

Inilah buku yang menjawab pertanyaan saya,

“mengapa tidak semua pekerja-keras itu sukses?”

Pertama : Kesempatan.

Kesempatan. Peluang. Ia hanya datang satu kali, pada satu masa. Bahkan pada tahun dan bulan berapa seseorang itu lahir pun dapat menjadi salah satu penentu sukses-tidaknya seseorang dalam suatu profesi. Tidak pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya. Maka menjadi berpengaruhlah : dimana seseorang itu bersekolah, kuliah, hingga tempat kelahirannya. The Beatles dapat menjadi amat lihai dalam memainkan musik karena mereka telah berkesempatan melewati 1200 kali manggung di Hamburg. Itu yang membuat The Beatles unggul diantara band-band internasional lainnya.

Bill Gates, beruntung memiliki akses ke teknologi tercanggih pada masanya. Ia pun mulai asik coding, hingga melewati lebih dari 10.000 jam berlatih! Hingga akhirnya ia bisa se-sukses sekarang.

Hingga ada kesimpulan : jika ingin sukses hingga mencapai dunia internasional, dibutuhkan 10.000 jam berlatih. 8 jam satu hari, selama 10 tahun. Nah, ini sih bukan bekerja keras lagi! Tapi bekerja amat keras!!!

Seorang teman yang suka coding, Wirawan, pernah menceritakan kepada saya tentang suatu buku yang teramat janggal. Buku itu berjudul “10 jam untuk menjadi programmer”. Kenapa janggal? Karena dibutuhkan 10 tahun untuk seseorang itu bisa mengatakan bahwa, “saya adalah programmer”. Itu adalah pernyataan yang dikutip oleh Wirawan dari seorang programmer Google. Sayang Wirawan lupa nama tokoh tersebut. (Huffphh.. masih panjang perjalananmu, nak.. 10 tahun lagi..)

Berlatih. Berlatih. Dan berlatih. Ya. Mereka semua bekerja keras. Amat keras, bahkan! Di luar sana, mungkin saja ada sederetan orang-orang yang bekerja dengan amat keras. Tapi mereka tidak sukses.  Itu karena tidak semua memiliki kesempatan yang sama.

Lalu saya pun teringat akan kisah seorang sahabat Rasulullah SAW, yaitu Khalid bin Walid, Sang Pedang Allah. Sebagaimana berkesempatannya seorang Khalid bin Walid untuk berlatih berkuda dan memanah, sementara rekan-rekan sebayanya sibuk mencari nafkah. Khalid bin Walid lahir dari keturunan bangsawan. Maka ia pun tidak perlu bersusah-payah bekerja di usia emasnya. Ia memanah, berkuda, berlatih. Dengan jam terbang yang sedemikian tinggi, pantas saja ia menjadi jawara dalam kancah pertempuran.

Kedua : Budaya.

Budaya. Adat istiadat. Kebiasaan. Maka menjadi pentinglah dari keluarga mana seseorang itu berasal? Besar di lingkungan apa? Berasal dari keturunan mana?

Dalam buku ini diangkat suatu kasus dimana bahwa budaya senioritas (junior patuh kepada senior) mempengaruhi tingkat keselamatan pada maskapai penerbangan. Budaya ini membuat para junior (asisten pilot) ragu-ragu dalam mengingatkan senior (pilot) jika ada kesalahan yang sang senior lakukan. Keragu-raguan ini membuat kecelakaan pesawat terbang pun terjadi.

Nah, kalau untuk kasus mahasiswa. Sepertinya kebanyakan mahasiswa indonesia yang saya kenal, takut untuk bertanya. Takut dibilang bodoh. Padahal kalau tidak bertanya maka ia tidak mendapat jawaban, dan justru itu yang membuatnya semakin tertinggal.

Budaya ini membentuk karakter seseorang. Dan dengan berbekal karakter itulah seseorang bisa sukses.

Lalu Bagaimana Selanjutnya?

Kita sudah terlanjur berada di lingkungan yang begini. Besar dalam keluarga yang seperti ini. Menghabiskan waktu untuk ini-itu. Melepaskan berbagai kesempatan dalam hidup. Apakah kita masih bisa sukses?

Jawabnya : tentu saja bisa! Yang diperlukan adalah kemauan dan kemampuan.

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’du:11)

Pertanyaan selanjutnya : bagaimana caranya?

Kalau dari dimensi suksesnya Mr.Gladwell ini, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :

1. Iqra’ (bacalah!). Asah kepekaan terhadap “kesempatan”. Banyak orang yang tidak sadar bahwa begitu banyak kesempatan dalam hidupnya yang telah ia lewatkan begitu saja. Tanpa ia pernah merasa bahwa itu adalah sebuah “kesempatan”. Justru ia mengeluh karena beban yang bertambah. Padahal itu sebetulnya adalah sebuah kesempatan yang patut ia syukuri.

2. Jangan sia-siakan setiap kesempatan yang datang dalam hidup. Karena tidak ada yang dapat memastikan, apakah kesempatan itu akan datang kembali ataukah hanya sekali ia menghampiri?

3. Berlatih. Berlatih. Dan berlatih. Ini merupakan harga mati untuk bisa melangkah maju.

4. Mengubah budaya hidup. Menjadikan hidup lebih berkualitas. Apa saja budaya yang perlu diubah? Tentunya pengetahuan semacam ini baru bisa didapat setelah banyak menggali ilmu dan informasi. Pelajari budaya hidup orang-orang sukses. Dari sana akan ada oase kecemerlangan kualitas hidup mereka.

5. Anak itu harus masuk ke sekolah terbaik. Entah itu fasilitasnya, lingkungannya, hingga budaya yang diterapkan disana. (loh kok jadi nyambung ke “anak” ya?)

Satu PR dari buku ini : menciptakan dunia yang memberikan kesempatan dengan lebih adil bagi setiap individunya.

Apa yang saya tuliskan hanya sebagian kecil dari buku ini. Saran saya, baca sendiri supaya lebih mengena. Karena Mr.Gladwell menjabarkan banyak contoh dan argumen yang mendukung dua kunci sukses ini.

Semoga bermanfaat.

Satu kata untuk buku ini : mantap!

Iklan

22 thoughts on ““Outliers”, Rahasia Di Balik Sukses, oleh Malcolm Gladwell

  1. mbak, saya baca review ini setelah googling. Mau nanya, buku ini amankah dibaca oleh kita yang muslim ? saya sebelumnya agak khawatir. Terima kasih

    • Menurut saya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari buku ini. Penulisnya hanya menggambarkan sisi lain dari suatu sebab kesuksesan seseorang. Ibarat buku, dapat dilihat dari berbagai sisi. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s