Tiga Kali Hampir Kehilangan Handphone Memicu Beberapa Pertanyaan dalam Benak

handphone

Tiga Kali Hampir Kehilangan Handphone Memicu Beberapa Pertanyaan dalam Benak

Terhitung sudah tiga kali handphone-ku (hp) sempat menghilang untuk sementara waktu. Tiga kali ketika aku benar-benar merasa bahwa hp itu tidak akan kembali dan berpikir untuk meneguhkan hati agar ikhlas..

Pertama

Kali pertama adalah ketika aku sedang Gladi (semacam kerja praktek) di Kandatel Telkom Jakarta Barat. Sekitar Juli 2006. Saat itu aku sedang duduk di sofa depan pintu lift. Termenung setelah berulang kali membaca isi SMS yang mengejutkan. Satu lagi misteri dalam sejarah hidupku terbongkar. Tak berapa lama, teman-teman berbarengan menuju lift untuk menunaikan shalat Ashar. Sudah adzan rupanya. Aku pun turut serta menuju lift.

Setelah shalat, aku pun memanjatkan doa memohon pertolongan dan kekuatan dari-Nya (yah.. gini deh.. masih sering beribadah karena kebutuhan..) Selepas doa dan merapikan mukena, aku merasakan seperti ada yang hilang. Ada yang kurang..

Ternyata, hp-ku tidak ada!

Panik! Lalu aku berusaha menenangkan diri dengan membatin, “hayo diingat-ingat.. hari ini kapan terakhir berinteraksi dengan hp dan dimana?” Jawaban pun langsung keluar, “sebelum shalat, di sofa depan lift!”

Dengan langkah tergesa aku menuju TKP (tempat kejadian perkara).

Ting! Pintu lift terbuka.

Sofa kulit-imitasi berwarna krem itu pun terpajang dihadapan. Aku pun mulai menginvestigasi daerah sekitar sofa. Di tiap sudut. Ku perhatikan lekat-lekat.

Hhh… tidak ada!

Hp-ku tidak ada..

Di mana ya, Allah?

Dengan pandangan mata yang kebingungan, aku berpikir dan berpikir.. “Dimana ya? Kepada siapa aku harus bertanya?”

Langkah ku pun gontai. Ku berjalan menuju lift sembari berharap, “mungkin jatuh sepanjang perjalanan dari kantor ke masjid”.

Belum lagi aku masuk ke dalam lift, seorang abang CS (cleaning service) muncul dari dapur. Aku merasa ia memperhatikan rona wajahku. Sempat terbersit dalam hati untuk bertanya padanya. Namun aku tak sampai hati jika ia nanti tersinggung karena pertanyaanku.

Aku pun memalingkan wajahku. Aku tidak ingin ada yang “membaca” kekalutan hati ini. Tapi kemudian abang CS ini memanggilku, “mba.. mba..”, “mba kehilangan hp ya?”

Tersentak aku mendengar pertanyaan abang ini.

Aku pun menjawab dengan nada lemas, “iya, bang.. lihat hp jatuh di sekitar sini ngga, bang?”

Kemudian tangan kanannya yang sedari tadi berada di dalam kantong pun ia keluarkan. Dan dalam genggaman tangannya, aku melihat benda yang tidak asing lagi bagiku. Hp-ku!!!

Alhamdulillah..

Kedua

Terjadi pada akhir tahun 2008. Di kantor kerja. Aku sedang asik bekerja di depan komputer. Iseng-iseng coding. Kemudian, entah kenapa, tiba-tiba aku berpikiran, “eh, hp dimana ya?”

Aku rogoh saku kantong. Tidak ada.

Aku cari di dalam tas. Tidak kutemukan.

Dimana?! Dimana?!

Aku pun menyandarkan pundakku di kursi. Seraya menyemangati diri, “ayo ingat-ingat put..”

Aha!

Mungkin tertinggal di toilet!

Aku pun segera beranjak ke toilet.

Teman-teman heran dengan pergerakan-ku yang tiba-tiba.

Di toilet, aku bertemu mba Ika, seorang mba CS (cleaning service). Kami biasa ngobrol jika bertemu. Biasanya aku yang memulai percakapan. Menanyakan berbagai hal.

Mba Ika bekerja seperti biasa.

Dan aku ingin terlihat normal, seakan tidak terjadi apa-apa. Maka aku mencari hp dari satu toilet ke toilet lainnya. Dengan berusaha untuk tidak menimbulkan kecurigaan.

Di akhir pencarian, aku pun menghela napas panjang..

Hhhh… (tidak ketemu..)

Dengan semangat yang mengendur aku memegang gagang pintu toilet. Ku hendak keluar melanjutkan pencarian hp.

Sebelum aku sempat keluar, mba Ika memanggilku, “Mba.. ini ada hp hilang di toilet. Punya mba, ya?”

Aku pun membalikkan badan. Menatap matanya. Dan mengalihkan pandangan kepada genggaman tangan kanannya. Disitu kudapati dompet hp-ku yang hitam.

“Alhamdulillah.. itu hp aku, mba.. Terima kasih banyak ya, mba..”

Alhamdulillah..

Ketiga

Kejadian ini baru berlangsung beberapa hari yang lalu, 28 April 2009.

Magrib itu, sepulang kerja, di bus karyawan. Aku masih berinteraksi menggunakan hp kesayanganku. SMS-an dengan seorang teman. Setelah itu aku memegang hp digenggaman. Padahal biasanya aku masukkan ke dalam tas. Mungkin ketika itu aku sedang menanti balasan SMS, entah aku lupa.

Ditengah kemacetan Jakarta

Ditengah kemacetan Jakarta

Terjebak ditengah kemacetan. Rasa kantuk pun menyergap. Tak terasa lalu aku terlelap.

Ketika hampir sampai pada titik pemberhentian, aku pun terbangun. Menggunakan beberapa detik untuk “mengumpulkan” nyawa. Lalu aku bergerak menuju pintu bus. Bus berhenti. Dan aku pun turun. Lalu melanjutkan perjalanan, naik ojek ke rumah.

Kurang dari satu jam setelah sampai di rumah, aku merasa ada yang tidak beres. Ada yang kurang.

“Hp?!,” batinku.

Lalu aku memeriksa tas. Hp tidak ada. Kuperiksa sudut demi sudut tas ransel hitam-biru-ku. Tidak ku temukan.

“Lalu dimana?” pekikku dalam hati.

Di dalam kamar. Ada seorang sepupu. Namun aku enggan untuk menceritakan musibah ini. Aku pun berusaha agar ke-panik-an tidak terlihat. Aku hanya meminjam hp-nya dan meminta dua SMS dengan alibi pulsa habis. Bohongkah? Mungkin.. yang kupikirkan saat itu adalah untuk tidak menambah ke-panik-an dengan rentetan pertanyaan “dimana?”, “hayo ingat-ingat!’, “hah?! kok bisa hilang?!” Lagipula, aku masih berpikir bahwa hp-ku akan kembali dan semua akan kembali normal. Kalaupun tidak kembali, baru esok hari akan ku ceritakan kepada keluarga di rumah.

Aku pun beberapa kali berusaha menghubungi nomor SIMPATIku (duh! promo nih..)

Aneh, nomorku tetap bisa dihubungi! Tidak diangkat. Padahal jika hp itu memang diambil orang lain, biasanya nomor langsung dicabut. Atau telepon masuk dimatikan. Memang sih, terakhir hp dalam kondisi tidak bersuara (mode : silence). Harap-harap hp masih dapat kembali. Cemas.

Aku hanya menceritakan kondisi ini ke adikku, Ihsan. Benar saja. Ihsan pun meluncurkan rentetan pertanyaan yang menyebalkan. (jadi menyesal telah bercerita) Aku pun menegaskan kepadanya untuk diam dulu sampai hari esok. Karena masih ada kemungkinan hp itu kembali. Mungkin tertinggal di bus.

Mudah-mudahan..

Malamnya aku menulis pemberitahuan hp hilang melalui media elektronik; email, milist, dan Facebook. Untuk menutup kemungkinan penyalahgunaan nomorku. Banyak kasus, ketika hp seseorang hilang, “penemu” hp itu meminta pulsa kepada nomor yang ada di daftar kontak yang tersimpan dalam hp.

Sisi Jalan Protokol

Sisi Jalan Protokol Pagi Hari

Esok hari aku berangkat kerja lebih cepat dari biasanya. Karena aku ingin memeriksa kolong di bawah bangku bus. Benar saja aku menjadi orang pertama yang masuk ke dalam bus. Selang beberapa detik kemudian baru ada seorang ibu memasuki bus.

Aku duduk di tempat yang sama seperti kemarin sore. Aku periksa kolong tempat duduk. Namun hp tidak ada. Aku pun menghela napas.. Sambil kemudian merancang kata-kata untuk bertanya kepada bapak sopir.

Bapak supir ada disitu. Di belakang kemudi.

Hanya berjarak satu meter dari tempat dudukku.

Lalu bapak itu membalikkan badannya. Berkata kepadaku dan ibu tadi, “ini tadi malam ada hp yang ketinggalan di bus.” Pada tangan kiri bapak ada sebuah dompet hp hitam.

Dompet hp-ku! Alhamdulillah..

Aku langsung menjawab, “itu punya saya pak!”

Bapak itu langsung memberikan dompet itu kepadaku. Lalu ia bercerita betapa anehnya perasaan hatinya tadi malam. Bapak begitu was-was. Resah. Namun ia tidak bisa menjelaskan sebabnya. Akhirnya ia pun tidak pulang ke rumah. Ia memilih menghabiskan malamnya di dalam bus.

Malam itu, Bapak mendengar suara getaran hp berkali-kali. Tapi ia tidak menemukan dimana hp tersebut. Hingga ia berpikir bahwa itu berasal dari bus lain. Ia berkeliling ke bus-bus yang lain. Tapi ia tidak menemukannya. Hal ini tidak ia sampaikan kepada kawan-kawan satu pool. Khawatir jika orang lain tahu, maka orang tersebut justru akan mencari hp itu dengan maksud tidak baik (untuk diambil)

Pagi harinya. Ketika Bapak membawa bus dan berhenti di suatu lampu merah di bilangan Kuningan, ia mendengar suara, “sreeekkk..” Semacam suara benda yang bergeser di lantai. Ia pun menengok kolong bus. Ternyata disitulah ia menemukan dompet hpku. Alhamdulillah..

Teronggok di bawah tempat duduk

Teronggok di bawah tempat duduk

Tiga Kali Ditolong oleh “Wong Cilik” Memicu Beberapa Pertanyaan dalam Benak

Tiga kali hampir kehilangan hp. Tiga kali diselamatkan oleh wong cilik. Ya, mereka yang mungkin jika dinilai dari tingkat ekonomi, tergolong yang pas-pas-an. Yang kalau dipikir-pikir, jika saja mereka tidak mengembalikan hp-ku, tentu saja uang dari penjualan hp itu dapat mengisi perut keluarganya.

Tapi mengapa mereka dengan tulusnya mengembalikan hp-ku? Bukankah mereka amat membutuhkan uang untuk penghidupan?

Ternyata kacamata ekonomi itu terlalu picik untuk digunakan menilai orang lain. Terlalu sempit. Dan dangkal.

Ketiga wong cilik yang telah menolongku adalah orang-orang yang kaya. Mereka tidak tergiur oleh harta yang tak dapat dipertanggungjawabkan. Harta yang bukan haknya.

Lalu bandingkanlah dengan orang-orang yang mengaku kaya. Atau orang-orang yang terobsesi untuk kaya. Yang tak pernah puas dengan apa yang didapat. Yang perutnya selalu saja kelaparan walau disumpal berbagai ‘amplop’ pencuci mulut.

Jadi siapa sebenarnya yang miskin?

Siapa pula yang kaya?

Kaya-kah aku?

Miskin-kah aku?

Lalu bagaimana dengan dirimu?

(nantikan kelanjutan tulisan ini. Segera! InsyaAllah)

Iklan

31 thoughts on “Tiga Kali Hampir Kehilangan Handphone Memicu Beberapa Pertanyaan dalam Benak

  1. kalo aku belum pernah kehilangan…..
    malah pengen banget nemuin henpun…..
    kapan ya..nemuin Aipun…….
    pengen:mode on

    • mari menjadi salah stu orang baik di dunia ini, lif! šŸ˜‰
      amin.. semoga tidak sampai kehilangan.
      dan jika kehilangan, semoga diberikan kesabaran serta ganti yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s