Satu Hari Satu Jam (Sebuah Komitmen Kepada Keluarga)

Aku dan Ihsan

ko·mit·men n perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu

Komitmen

Itulah arti “komitmen” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online. Dalam Al-Qur’an, “komitmen” itu dijabarkan dengan kalimat yang lebih jelas lagi :

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat (QS.At-Taubah : 41)

Lalu apa hubungan “komitmen” dengan judul tulisan ini, Satu Hari Satu Jam? Dan apa pula hubungannya dengan foto saya bersama adik saya, Ihsan?

Ceritanya begini, dikarenakan jarak antar-pulau memisahkan saya dan Ihsan dari mama dan ayah, maka saya diamanahkan untuk menjaga adik saya, Ihsan. Ayah saya seringkali mengulang-ulang :

Put, kamu adalah ayah, ibu, kakak, sahabat, dan teman bagi Ihsan.

Amanah itulah yang membuat saya memutuskan untuk mencari kerja di Jakarta. Padahal tawaran kerja di Bandung sudah digenggaman. Ditambah kondisi lingkungan di Bandung yang jauh lebih bersih, teduh, dan natural dibandingkan Jakarta. Warganya pun ramah dan tamah. Daerah impian bagi seorang anak yang “digembleng” di lingkungan Jakarta yang bertolak 180 derajat dari itu. Saya berani jamin, jika ada pendataan kepada mahasiswa/i Bandung yang berasal dari Jakarta, jika mereka ditanya : lebih enak tinggal dimana, Jakarta atau Bandung? Maka yang menang adalah “Bandung”.

Alhamdulillah, Allah memudahkan saya dalam mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Dan juga berbagai kemudahan lainnya yang patut saya syukuri banyak-banyak. Maka jadilah saya kembali ke rumah saya di Jakarta. Dengan satu buah kalimat “pamungkas” yang menggambarkan amanah yang saya emban.

Lalai Karena Pekerjaan

Seiring dengan berjalannya waktu, saya menjadi semakin asik dengan pekerjaan saya. Sampai di rumah sekitar jam 18.30. Lalu setelah mandi, makan, shalat, saya pun kembali melanjutkan keasikan saya di depan komputer. Hingga suatu hari Ihsan sempat nyeletuk, ” kak pu3 sekarang lebih asik sama kerjaannya!”

Reaksi awal saya atas pernyataan adik saya ini adalah pembelaan. Saya mengatakan kepadanya bahwa itulah tuntutan pekerjaan saya sebagai programer. Akhirnya kami pun membuat perjanjian. Dari senin-jum’at ihsan harus ridho jika sepulang kerja saya hanya menyisihkan sedikit perhatian kepadanya. Tetapi dengan timbal balik bahwa pada hari sabtu dan minggu saya tidak boleh memikirkan pekerjaan. “Well, it’s a deal!” pikirku saat itu.

Selang beberapa minggu, saya menyadari bahwa perjanjian itu terkadang tidak realistis. Mengapa? Karena adik saya itu adalah seorang anak yang menginjak remaja. ABG. Anak Baru Gede. Kumpul dengan teman-teman seringkali menjadi kegiatan yang dinanti. Yang terkadang mengalahkan keinginan untuk bersama dengan keluarga. Ya, saya juga pernah mengalami masa-masa indah itu.

Kondisi pun berbalik. Dahulu saya yang sibuk di hari sabtu dan minggu. Kini ia yang sibuk dengan teman-temannya pada dua hari itu. Kini saya yang kehilangan. Mungkinkah kesepian ini dirasakan tiap orang tua yang memiliki anak remaja? Entahlah..

Saya pun sibuk mencari solusi. Sepertinya amat sulit untuk mengandalkan dua hari itu untuk menghabiskan waktu bersama. Memaksakan kehendak agar Ihsan menggeser agenda-agenda dengannya pun tidak mungkin. Karena ia pun punya kebutuhan yang perlu dihargai.

Lalu saya mengambil sebuah resolusi. Yang digarisbawahi dalam suatu deklarasi.

Deklarasi ” Satu Hari Satu Jam “

Suatu deklarasi yang mewajibkan saya untuk menghabiskan waktu bersama adik saya selama (minimal) satu jam dalam satu hari sepulang kerja. Seletih apapun saya pulang kerja, saya akan konsisten menjalani ini. Betapapun menyebalkan hari ini di kantor, gerakan ini harus terus menghiasi tiap malamnya. Saya menganggap ini sebagai salah satu bentuk komitmen saya terhadap orang-orang yang saya cintai, terhadap keluarga saya.

Dalam praktiknya, satu jam itu bersifat relatif. Kadang kurang dari satu jam. Namun seringkali justru lebih dari itu. Tidak mengapa bagi saya. Karena fungsi dari deklarasi itu adalah penyederhanaan. Sepenggal kalimat sederhana yang dengan mudahnya saya ingat ketika hari menjelang sore. Ketika berada dalam perjalanan pulang. Kalimat “Satu Hari Satu Jam” itu terngiang-ngiang seakan menghantui.

Satu jam itu pun diisi dengan berbagai hal. Mulai dari belanja ke Indomaret, ngobrol tentang cita-cita, sejarah, masa depan, kegiatan hari ini, menelepon kak Iman dan Adi, makan sate burung, main catur, belajar Adobe CS2, hingga becanda lempar-lemparan bantal di kamarnya!

Ada tawa lepas, canda-canda lebay (berlebihan) ala ABG masa kini, keseriusan bertukar pendapat, amarah yang memuncak di ubun-ubun, rasa sebal karena tidak dipahami, kekesalan dalam ego dan yang pasti ada cinta dan kasih sayang disana.

Ritual lainnya yang saya biasakan selain itu adalah makan malam dan sarapan bersama. Kedua hal ini terinspirasi dari buku The Nanny 911 yang menjabarkan betapa ritual-ritual dalam sebuah keluarga itu akan menimbulkan rasa aman dan kepastian bagi anak-anak. Dari rasa aman itulah mental anak menjadi lebih sehat, komunikasi menjadi lebih terbuka, dan kebersamaan menghangat.

Lalu kami pun sudah sepakat bahwa malam minggu adalah “satu malam bersama sate burung”. 😀 Di dekat rumah ada tukang penjual sate burung. Gara-gara Ihsan, saya jadi ketagihan sate burung. Dan kini tiap malam minggu adalah saatnya untuk MAKAN SATE BURUNG!!! Hehehe..

Untuk kegiatan hari sabtu dan minggu, biasanya kami bicarakan satu minggu sebelumnya. Kini saya mempelajari suatu hal : anak remaja itu cenderung untuk sibuk dengan teman-temannya. Namun begitu jika kita sudah membuat komitmen dan win-win solution maka mereka pun akan menyesuaikan diri. Selama kita saling menghargai kebutuhan masing-masing, biasanya akan mudah mencari jalan keluar yang baik, yang dapat diterima seluruh pihak dengan lega hati.

Sungguh banyak hikmah yang saya dapatkan selama saya menjabat suatu amanah dengan peran ganda :

  • Sebagai ayah : …?
  • Sebagai ibu : dengan kelembutannya mencurahkan perhatian dan kasih sayang.
  • Sebagai kakak : yang senang membina dan “mem-binasa-kan” adiknya! Hehe.. kadang ego kakak itu sedemikian besar. Ia ingin di-angguk-i dan dituruti adiknya.
  • Sebagai sahabat  : yang nyaman untuk berbagi cerita dengannya.
  • Sebagai teman : yang agak mirip dengan sahabat tapi masih dibawah level sahabat. (Duh! Bagaimana cara menjelaskannya ya? Tapi ngerti khan..)

Diantara kelima peran itu, yang tersulit bagi saya adalah yang pertama : sebagai ayah. Eh, bukan berarti empat lainnya sudah saya jalani dengan baik loh! Bukan begitu.

Saya masih perlu banyak belajar dan akan terus belajar. Namun peran “sebagai ayah” ini perlu sekali saya cari ilmunya. Peran yang teramat sulit. Karena sejarah hidup membuat saya gamang akan arti seorang ayah. Siapa itu “ayah” ? Seperti apakah sosoknya? Sampai-sampai saya pernah kerasukan hasrat untuk membaca buku yang berkaitan dengan “sosok seorang ayah yang baik”. Alhamdulillah, belakangan ini Allah “mengirimkan” seorang ayah untukku. (Hehe.. Bingung ya? InsyaAllah akan saya jelaskan dalam tulisan-tulisan selanjutnya. Saat ini huruf-huruf  itu masih mengawang)

Dan tampaknya tidak perlu sulit-sulit mencari role model (teladan)  sosok ayah yang baik. Sudah ada sosok ayahanda terbaik, Rasulullah SAW.

Hikmah hidup yang amat berharga. Yang membuat saya semakin memaknai arti keluarga dan komitmen yang perlu disiapkan untuk membangun suatu keluarga yang barakah.

Saya Sedang dan Akan Terus Belajar

Ada rasa malu tersendiri ketika mempublikasikan hal ini kepada rekan-rekan. Yah, sejujurnya saya malu. Karena saya yakin, apa yang saya lakukan ini merupakan hal yang amat kecil bagi sebagian rekan-rekan pembaca. Mungkin ada yang akan berujar, “Baru segitu komitmennya?”, “Heh?! Cuma satu jam?”

Saya sedang belajar, kawan. Belajar untuk menjadi lebih baik ditiap harinya. Belajar untuk menjalani komitmen yang saya buat, baik itu dalam keadaan ringan maupun berat.

Dan dalam proses belajar ini, berbuat salah adalah suatu kewajaran. Seperti salah satu iklan produk pembersih, “kalau ngga kotor, ngga belajar!” 😉

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. ( QS. At-Tahrim : 6 )

Keterangan Foto

Tanggal : 6 Oktober 2008.

Lokasi : Kawah Putih, Kabupaten Bandung, Indonesia.

Kondisi : Cerah, tidak terik. Namun suhu begitu dingin, menusuk. Terpaan angin pun kencang. Maka dari itu kami mengenakan jaket.

Camera digital : Canon (punya Diena).

Di-edit dengan : Adobe Photoshop CS2.

Iklan

18 thoughts on “Satu Hari Satu Jam (Sebuah Komitmen Kepada Keluarga)

  1. Ping-balik: Bukan Tentang Apa Yang Saya Makan « Lakukanlah dengan sepenuh hati!

    • Hehe.. Terima kasih,za..

      Fotografi dan edit foto adalah salah satu hobi baru mb dibawah bendera “kesenian” setelah lama meninggalkan kuas, kanvas, cat air, dan cat minyak. (Dampak 4 tahun di kampus IT)

      Ternyata edit foto itu bisa jadi sarana menghilangkan stress. Walau terkadang untuk mempelajarinya menimbulkan stress tersendiri. Hehe.. 😀
      Tunggu karya seni mba berikutnya ya. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s