Pengamen (Baca : Pemalak) Jakarta

Gadis menaiki bus dengan segera. Sedikit melompat. Hup! Akhirnya ia berada di dalam bus dengan selamat. Biasalah, bus-bus di Jakarta terlampau sibuk untuk sekedar berhenti dengan sempurna.

Gadis pun duduk.

Kali ini ia memilih bangku di dekat pintu belakang.

Baru ia sadari betapa sepinya bus ini.

Gadis pun melamun menatapi pemandangan di luar jendela bus. Tenang.. “Pagi ini Jakarta sepi”, benak Gadis.

Tak lama ada tiga orang pria yang menaiki bus secara bersamaan. Pria-pria berbadan kekar. Dengan suara yang sangar salah satu diantara mereka memecah ketenangan dalam bus, “BAPAK-IBU SEKALIAN! Kami di sini tidak ingin mencuri, menodong, ataupun berbuat kriminalitas lainnya. Walaupun hidup sulit, mencari uang untuk makan susah, kami tidak ingin berbuat jahat!”

Byar!!!

Suara parau ini membuat lamunan Gadis buyar seketika. Gadis pun sempat ketakutan hingga ia dapat merasakan bulu kakinya merinding. Rasanya ia ingin berlari saja menjauhi ketiga orang pemalak ini. Gadis pun mengutuki diri, “Siaaaal! Kenapa pagi ini aku harus bertemu dengan pengamen-pengamen gadungan ini.”

Pengamen-pengamen gadungan ini adalah salah satu dari sekian hal yang membuat Gadis “gerah” di Jakarta. Cukuplah sudah banjir, debu, dan kemacetan. Kenapa musti ditambah dengan pemalak-pemalak yang tidak berbudi ini?

Lalu seorang lagi menyambung, “Karena itu Bapak dan Ibu sekalian. Kami disini meminta bantuan Bapak dan Ibu. Kami tidak ingin berbuat jahat. Kami hanya ingin …”

“SESUAP NASI!” seru ketiga orang itu dengan kompaknya.

Kemudian orang yang pertama berkata lagi, “Sisihkanlah sebagian dari uang Bapak-Ibu untuk kami. Kami tidak mengharap hal lain selain daripada keikhlasan Bapak-Ibu.”

Kalimat yang terakhir ini membuat Gadis geli. Ia pun berkata dalam benak, “Ah,yang benar saja! Kalau mengharap keikhlasan, kenapa minta uang, mas?”

Seorang diantara mereka pun berkeliling menengadahkan topinya sebagai wadah uang yang disumbangkan para penumpang.

Entah mengapa, mungkinkah karena rasa takut yang masih membekas, Gadis pun kelabakan mencari uang receh lima ratusan di dompetnya. Ia mengais di antara selipan dompetnya. Namun uang receh itu tidak kunjung ada. Uang receh terkecil yang ada di dompetnya saat ini adalah uang lembaran seribu rupiah.

Pria itu semakin mendekat.

Gadis semakin panik.

Berbagai pikiran jelek pun muncul sebagai jawaban atas pertanyaan, “Kalau aku ngga ngasih, gimana ya?”

Akhirnya Gadis pasrah untuk menyerahkan uang seribu rupiah. Jumlah yang cukup besar baginya untuk diberikan kepada pengamen pemalak. Satu lembar seribu rupiah pun ia pegang erat.

Perlahan pria itu kian dekat.

Hingga akhirnya sampai juga di tempat Gadis duduk.

Lembaran seribu rupiah sudah di tangan Gadis.

Perlahan Gadis masukkan uang itu ke dalam topi sembari melongok isi dalam topi.

Rupanya rasa penasaran Gadis begitu membuncah sehingga ia pun ingin tahu jawaban dari pertanyaannya, “Mas-mas ini dapet duit berapa ya?”

“Hah?! Kosong?!”

“Jadi aku nih satu-satunya orang yang ngasih mas-mas pemalak ini! Waduh, nyesel juga nih..” benak Gadis.

Seketika timbul keberanian Gadis.

Gadis menatap wajah pria itu.

Dan ia pun bertanya, “Mas, boleh ngasih saran?”

Pria berbadan kekar itu pun membalas tatapan Gadis.

Tatapan yang membuat bulu kaki Gadis kembali merinding dan Gadis pun menyesali diri, “Duh… Ngapain aku ngomong begitu ya?”

Pria itu lalu menundukkan badannya, mendekatkan wajahnya ke Gadis, seraya berkata, “Ada apa, mb?”

Gadis pun membulatkan tekadnya. “Sudah terlambat. Tidak bisa untuk mundur,” batinnya.

Gadis pun berkata kepada pria berbadan kekar itu,”Mas, bisa ngga lain kali mas ngamen aja? Atau baca puisi kek!”

Inspirasi : Sabtu pagi, 14 Februari 2009.

Dalam sepinya bus Tn.Abang-Ragunan.

Menuju Training ESQ di Menara 165.

Iklan

5 thoughts on “Pengamen (Baca : Pemalak) Jakarta

  1. premanisme itu namanya, seharusnya aparat sering melakukan razia.


    putrichairina berkata :
    He’eh! “premanisme”. Sesering apapun aparat melakukan razia, selama kemiskinan masih ada, ini ngga bisa dihilangkan.

  2. yg kyk begini mah bnyk. cb aj lintas jawa.
    ada yg dekil bgt, gondrong, bc puisi tereak2 yg sok nyeni..
    rada maksa, klu g dikasi, g pegi2… beuh


    putrichairina berkata :
    Lintas jawa? Boleh juga.. 🙂

  3. Wah, ada bakat juga buat cerpen nih….
    Lanjutin buat buku dong…
    tu ada milist FLP n asmanadia.. 🙂


    putrichairina berkata :
    Buat buku? Hm..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s