Proporsional Demi Suksesnya Perubahan

gantungan baju

Menggantung baju. Awal suatu pemikiran.

Pagi ini agak berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Pagi ini saya awali dengan mencuci pakaian. Biasanya saya mencuci pakaian pada jumat malam atau sabtu pagi. Tapi berhubung sore ini saya akan berangkat ke Bandung, langsung dari kantor, dan baru akan kembali ke Jakarta hari Minggu maka saya memutuskan untuk mencuci pagi hari ini. (Seharusnya tadi malam sih..Tapi karena terlalu lelah, saya tidak sanggup)

Aktivitas mencuci baju ini (menggunakan mesin cuci) diselingi dengan shalat, membuat bekal, masak nasi, masak air, mandi, packing perlengkapan untuk di BDG (sama sekali belum disiapkan tadi malam), hingga membereskan kasur. (hm..apa lagi ya..)

Sekitar pukul 06.45, proses pencucian selesai. Saya mulai menggantungkan baju satu per satu.Ketika menggantungkan baju inilah saya terpikirkan suatu hikmah.

Gantungan baju di rumah saya (tepatnya : rumah nenek saya) terdiri atas berbagai jenis. Ada yang berbahan dasar plastik, kawat, hingga kayu. Untuk gantungan baju yang berbahan dasar plastik memiliki varian yang lebih banyak. Ada yang tipis, agak tebal, hingga sangat tebal.

Suatu kali, saya hendak menggantungkan baju yang agak tebal, yaitu jaket. Sejenak saya perhatikan deretan gantungan baju pada jemuran ini. “Hmm..pake gantungan yang mana ya?” batin saya. Selang beberapa detik saya memutuskan untuk mengambil gantungan baju yang tampak paling kokoh yang tersisa. Yaitu yang berbahan plastik sangat tebal. Dengan ketebalannya, saya yakin ia mampu menahan beratnya jaket yang masih lembab ini. Jika menggunakan gantungan baju berbahan plastik tipis, saya yakini ia akan rusak. Membengkok karena tidak sanggup menahan beban. Bahkan berkemungkinan jaket itu akan melorot dari gantungan yang bengkok.

Berpikir

Hm ...

Kemudian pikiran ini pun kembali terusik. “Hm, sepertinya kejadian-kejadian lain dalam hidup pun agak mirip dengan proses pemilihan gantungan baju ini.”

Disadari atau tidak, kita semua adalah pemimpin. Entah itu memimpin organisasi, tim, perusahaan, keluarga, hingga memimpin diri sendiri. Dan dalam memimpin sudah pasti ada proses pendelegasian tugas, amanah, beban, atau tanggung jawab.

Ibarat proses menggantung baju. Maka proses pendelagasian tugas itu harus pula disesuaikan dengan objek delegasi. Perhatikan kemampuan dan kemauannya. Jangan sampai tugas yang kita berikan itu terlalu berat sehingga ia bengkok. Jika sudah satu kali bengkok, maka usaha untuk meluruskannya akan menyita tenaga. Dan jangan pula terlalu ringan sehingga terasa kurang berarti. Karena kita juga perlu memenuhi kebutuhan seseorang untuk berkembang, belajar hal baru, dan merasa tertantang.

Proporsional sepertinya kata yang tepat untuk mendeskripsikan pemikiran saya pagi ini.

Proporsional bukan hanya kepada orang lain. Tapi juga kepada diri sendiri. Jika ingin melakukan suatu perubahan yang signifikan dalam hidup (entah itu kebiasaan, pola hidup, dll) maka lakukanlah secara bertahap. Lakukanlah dengan proporsional. Ketergesaan dan ke-tidak-proporsional-an seringkali membuat keinginan untuk berubah itu justru menjadi mandeg. Hingga seseorang akhirnya balik ke titik semula.

Contohnya ketika seseorang bertekad untuk rutin shalat tahajud. Jika selama ini shalat subuhnya saja terlambat maka perubahan itu tentu akan sulit. Orang ini harus memulainya secara bertahap. Yaitu dengan mulai shalat subuh tepat waktu. Setelah shalat subuhnya sudah istiqomah telat waktu, maka baru beralih kepada tujuan shalat tahajud dengan rutin. InsyaAllah tercapai. Begitu pula jika ingin mengharapkan suatu perubahan pada diri orang lain. Harus proporsional, bertahap, dan konsisten. Tentunya harus dibingkai dengan kesabaran dan niatan ikhlas hanya untuk Allah semata.

Perubahan dengan cepat mungkin saja dapat dilakukan. Tapi saya khawatir, sesuatu yang cepat datang, akan cepat berlalu. Karena sesuatu yang perlahan namun konsisten, insyaAllah lebih tertanam.

Ibarat sebuah batu. Sebuah batu baru akan mencekung jika ditetesi air secara konstan, tetes-demi-tetes. Bukan dengan satu kali guyur.

(tambahan dari KBBI Online)

pro·por·si·o·nal a sesuai dng proporsi; sebanding; seimbang; berimbang:

pro·por·si n 1 perbandingan: 2 bagian: 3 perimbangan:

Iklan

11 thoughts on “Proporsional Demi Suksesnya Perubahan

  1. Nice posting..
    it realize me actually it’ s not difficult to change something in our habit, but try it in small-routinely thing then the big one..:)


    putrichairina said :
    Correct, vidya!
    Everything is possible. As long as there’s a will, then there’s a way. The problem is sometimes we don’t have enought patience to start it from the bottom. Just start it with something small but routine. Then the “big one” will come smoothly.

  2. wah hebat,, bisa dapet inspirasi dari ngganutng baju..

    putrichairina berkata :
    Selamat datang, nino.
    Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.^^

  3. ngejemur bs jg jd inspirasi ya.. ckckck..

    iya setuju.. perubahan harus dengan proporsional.. setahap demi setahap..

    aku jd merasa tersindir nih.. inginku bisa tahajud tiap malam.. tp sholat shubuh aja masih telat2 terus.. 😦


    putrichairina berkata :
    InsyaAllah bisa diperbaiki, Lif. (Kita semua juga harus selalu memperbaiki diri, kok.) Diawali dengan sebuah kemauan yang kuat. Dilanjutkan dengan ikhtiar. (Pasang alarm jam, hp, minta tolong ke teman, tidur lebih awal, mengurangi maksiat, dll) Ditambah suatu doa yang sungguh-sungguh: minta tolong kepada Allah agar dibantu dalam proses perbaikan diri, agar Allah membantu membangunkan ruh yang terlelap. 🙂

  4. bisa2nya kepikiran dr ngejemur… *geleng2.

    ini ada salah ketik y?
    ‘Setelah shalat subuhnya sudah istiqomah telat waktu, maka baru beralih kepada tujuan shalat tahajud dengan rutin.’


    putrichairina berkata :
    Astaghfirullah..
    Jazakallah sudah diingatkan, diq.
    Sudah saya ralat.

  5. proporsional… hmmm klu baca dari deskripsi anti, saya ngerasa proporsional punya hubungan erat dengan 2 kata, yaitu “tidak dzalim”, yaitu menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. 😀 CMIIW


    putrichairina berkata :
    Iya. Ke-tidak-proporsional-an akan mengakibatkan “pen-dzalim-an” salah satu (atau lebih dari satu) pihak. Baik itu disadari ataupun tidak.
    Sedangkan “menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya” adalah definisi dari “adil”. Agaknya “proporsional” dan “adil” memiliki kedekatan hubungan kekeluargaan. (Hehe..)

    Terima kasih sudah silaturrahim, venti.
    (hoho.. ternyata “yuniara” itu maksudnya “YUNIAR RAventi” ya..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s