Mencari Jati Diri Blog

Mungkin judul diatas bisa mewakili beberapa pikiran yang sempat berkecamuk belakangan ini.

tanda-tanya

tanda-tanya

Saya bukan mencari jati diri saya. Tapi jati diri blog ini. Jati diri semisal, apakah jiwa dari blog ini? Ada blogger yang sengaja memfokuskan pembicaraan pada suatu topik, entah itu musik, politik, hingga rikiplik. Berbagai alasan melandasi pengerucutan pembahasan itu. Ada yang memang karena hobinya, ada yang dengan maksud meninggikan traffik, hingga ada yang dengan maksud promosi AdSense.

Lalu bagaimanakah dengan jati diri blog ini?  Apa tema utama yang akan saya angkat? Apa batasan pembahasan dalam blog ini? Bagaimana pula dengan kisah personal saya? Apakah layak untuk disantap khalayak? Apa batasannya?

Nguing..nguing.. Pertanyaan menggantung.

Hingga saya pun sempat kerajingan “blog stat”. Saya menjadi selalu penasaran tentang jumlah pengunjung blog hari ini. (Haha..sempat juga terperosok dalam lubang ini) Hmph..masa-masa yang cukup mendebarkan. Rasanya tiap membuka wordpress, yang terngiang pertama adalah “hari ini berapa pengunjung ya?”

Awalnya memang biasa saja, malahan jadi tertantang untuk menaikkan rating blog. Tapi ternyata lama-kelamaan cukup menyiksa ; menjadi resah kala pengunjung sepi dan menjadi jumawa kala statistik melejit. (Suatu bentuk ke-tersiksa-an yang terselubung, kawan)

Lalu bagaimana? Apakah aktivitas ini diteruskan? Sepertinya pertanyaan ini harus segera saya jawab. Supaya menjadi jelas tujuan dari blog ini..

Lalu saya pun berusaha untuk merumuskan beberapa hal tentang blog ini. Blog ini saya harapkan menjadi blog yang bersifat :

  • informatif – memberikan informasi-informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
  • edukatif – mencerdaskan pembacanya.
  • inspiratif – membuat para penikmatnya menemukan ide/pemikiran/impian baru dalam hidup.
  • transformatif – pembaca tidak hanya menemukan gagasan baru, namun juga melakukan gelombang perubahan.

Blog ini pun tidak statistik-oriented. Biar kecil tapi tepat guna. Biar sedikit tapi membawa pengaruh baik. Lupakan saja blogstat! Itu hanyalah hitung-hitungan matematis, 1+1 = 2. Sedangkan yang diharapkan dari blog ini jauh dari itu, 1+1 = ~. Karena perubahan pada kehidupan satu orang, tidak ternilai oleh deret hitung. Ah, jadi ingat sebuah iklan yang menyatakan :

Tidak semua yang penting itu terukur.

Dan tidak semua yang terukur itu penting. (catet!)

Topik pada blog ini “semau-saya”. Gado-gado! Ada lontong pemikiran. Ada sayur teoritis, hipotesis, praktis, ataupun aplikatif. Ada sambal motivasi. Ada pula bumbu curahan hati. Hingga ada kerupuk-garing candaan saya. (Hehe..) Se-campur-aduk apapun blog ini nanti, saya akan terus berbagi.

Kau tidak pernah akan tahu ramuan mana yang tepat untukmu, sampai engkau mencobanya dan merasakan khasiatnya.

Hingga suatu titik nanti, saya yakin, saya akan menemukan polanya. Pola gaya saya menulis. Dan pola topik-topik yang saya minati dan kuasai.

Tapi itu nanti.. dengan sendirinya.. Setelah saya banyak-banyak menulis dan membaca. Yang saya lakukan sekarang adalah bersabar ; yakni dengan terus menulis dan menikmati prosesnya. (Yup! Lakukanlah dengan sepenuh hati)

Bagi rekan-rekan blogger, apakah pertanyaan seperti ini sempat singgah dipikiranmu? Jika pernah, apa yang kamu lakukan? Mungkinkah keresahan ini dirasakan setiap blogger pemula?

Iklan

9 thoughts on “Mencari Jati Diri Blog

    • Bener boss. Pemilik blog yang menentukan karakter dari blognya. Mengenai populer atau tidak, itu tergantung dari selera pembaca. Ada topik-topik tertentu yang memang menjadi kegemaran pembaca. Jika memang bertujuan untuk populer, saya kira bisa dengan mengangkat topik-topik populis tersebut. Ini semua tergantung dari kepentingan si pemilik blog.

  1. hehehe, asr sih nulis d blog nulis-nulis aja apa yg pgn dtulis, klo lg ‘beres’ malah nulis reading assignment yg teknis abis *halah cm 2 biji doank*
    pgn sih bisa nulis yg teknikal tp enak dibaca *suka gaya tulisannya wirawan*
    tp ga bisa bisa, jd yawda, apa adanya aja deh
    biasanya sih cm crita-crita nda jelas gitu, smoga ada hikmah dr tiap crita sih 😀

    klo mslh trafik yg byk sih itu kekna keberuntungan krn pnh ngepost yg dicari org byk 😀

    • Hehe.. gaya tulisan wirawan emang t.o.p. (are you here,wir?)
      Mungkin hal itu disebabkan kebiasaan wirawan baca buku. Semakin banyak seseorang membaca buku, semakin kaya kosakatanya dan semakin banyak alternatif yang ia miliki untuk menyampaikan suatu hal. Mb masih blum mau nulis hal-hal yang teknis. Hii..ngeri..
      Hekeke.. masih lebih suka hal-hal yang manusiawi dan filosofis. (duh?! berarti hal-hal yang teknis ngga manusiawi?)
      Awalnya mba tidak suka dengan cerita-cerita yang nda jelas loh, ri. Tapi seiring waktu, jadi belajar suatu hal. Yaitu selalu ada pelajaran yang bisa diambil dari ketidakjelasan-ketidakjelasan. Hehe..

  2. Putri : “Ada pula bumbu curahan hati. Hingga ada kerupuk-garing candaan saya. (Hehe..) ”

    Jaka : kerupuk? berati kriuk-kriuk dong ? 😀 V
    iya, sama pertanyaannya juga sering hinggap.. Tapi, blog stat juga ga ditinggalin.. 😀
    Percuma bikin blog, kalau ga ada yang baca.. Dan lebih banyak, mudah2an lebih baik.. kalau 1+1 bisa ~, gimana kalau 90+90 ?
    ya ga?.

    • @Jaka
      Iya, kriuk-kriuk garink! Makanya siap-siap air putih supaya ngga keselek.
      He’eh.. blogstat tidak ditinggal. Supaya bisa mengukur perkembangan saja, tidak menjadi orientasi.
      Sepakat! Lebih banyak yang baca, mudah2an lebih bermanfaat. (selama konsisten isinya untuk membawa kebaikan)

  3. @Bijak
    Bogstat jadi IPK? Seru! Seru! (Apa kacau?! Hehe..)
    Menurut saya :
    tahu pengalaman orang lain–> merasa cocok diaplikasikan untuk diri sendiri –> mencoba mengaplikasikannya –> baru saya akan benar2 tahu apakah itu cocok atau tidak.
    Jadi kembali, harus dicoba dulu, cocok atau tidak.

  4. coba kalo blogstat bisa dikonversi ke nilai IPK y,pasti seru tuh… ^_^
    putri:[Kau tidak pernah akan tahu ramuan mana yang tepat untukmu, sampai engkau mencobanya dan merasakan khasiatnya.]
    saiah:[untuk bisa merasakan khasiat sesuatu kita ga harus bereksperimen sendiri, belajar dari pengalaman orang lain bisa jadi mengefisienkan waktu kita]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s