Berikan aku satu kesempatan!

Malam ini adalah malam kedua aku membawa motor dari tempat kerja ke kampus [home]. Aku akan membonceng mba Nita.

Mungkin menurutmu tidak ada yang spesial. Tapi menurutku, mengizinkan (bahkan memotivasi) seseorang untuk membawa motornya, hingga ia rela berada di belakang adalah sebuah pertaruhan nyawa. Berlebihan? Ngga ah, memang bertaruh nyawa!

Coba jika mb Nita membandingkannya dengan cara ia membawa motor..wuih! Beda banget. Ilmu aku masih JAUHh… Terutama pengalaman. Aku tuh, masih sering nyerempet2 di tempat yang tidak seharusnya. Menggunakan rem tangan masih canggung. Kalau mau belok ataupun mau mengambil sisi jalan, masih lupa menyalakan lampu. Kurang terampil menorobos kemacetan. Ble’e banget deh! [untuk saat ini]

Tapi itulah proses kaderisasi (waduh,kok jadi kesini ya?). Untuk menghasilkan kader yang berkualitas, butuh pengorbanan dan kesabaran. Semakin besar kualitas yang diinginkan, semakin besar pula pengorbanan dan kesabaran yang dipertaruhkan.

Kesempatan..kesempatan..Tidak semua orang rela memberikannya. Dan tidak semua orang pula yang mau menggunakan kesempatan yang dimilikinya.

Saat kesempatan itu datang, manfaatkanlah! Karena kesempatan tidak datang dua kali. Dan perlu diingat, kesempatan itu bukanlah di atas langit! Kesempatan itu adalah apa yang ada ditangan saat ini. Sing sabar..sing sabar..mungkin saja pembimbingmu adalah orang yang keras atau karakteristik diantaramu benar-benar berbeda. Bersabarlah! Karena ilmu yang kau dapat mahal harganya. Bukan ilmu dari buku. Tapi ilmu dari sang pelaku.

Saat dirimulah yang berkesempatan untuk “memberikan kesempatan”, manfaatkanlah! Jadilah seorang pembina yang sabar dan tekun. Tetapkan tekad dalam diri, berapa besar kualitas yang ingin kau bentuk? Dan pertimbangkan juga “harga”nya. Sing sabar… sing sabar… karena kau akan melihatnya terjatuh, terpuruk, hingga terjerembab dalam prosesnya. Bantulah ia untuk bangkit! Suatu saat kau juga akan melihatnya melengos begitu saja. Tanpa peduli kepadamu. Maka luruskanlah niatmu.. Bersabarlah! Karena prosesnya tidak mudah.

Sudah ada beberapa orang pembinaku, dalam kasus mengendarai motor. Mulai dari Adi, adikku. Kemudian Wielda, Nana, Kuny, esHa, Gita (pengurus Astri 2005), aRvina (2006), hingga Risma (2005). Dan kalau ku perhatikan, setiap pengendara motor yang sudah lihai, selalu bersemangat untuk mengajarkan orang lain. Semangat seperti inilah yang perlu dipertahankan dan diperluas cakupannya. Tidak hanya semangat untuk melihat orang lain bisa mengendarai motor. Tapi semangat untuk mengumpulkan sebanyak mungkin saudara di surga kelak!

Rabb, berikan aku satu kesempatan..Untuk berjumpa denganMu di surga kelak.Berkumpul dengan Rasul dan syuhada. [hm…wanginya surga..]

Iklan

2 thoughts on “Berikan aku satu kesempatan!

  1. Iya,nih.Sebenarnya sudah mau banget untuk membuat SIM. Tapi ada ga sih, caranya supaya bisa membuat SIM dengan proses yang benar? Karena setahu pu3, klo tidak ada “pelicin”, akan dipersulit.

    Jadi berada diantara dua pilihan..tidak buat SIM,tapi melanggar peraturan. Atau membuat SIM,tapi dengan cara yang ngga bersih.
    Keragu-raguan membuat pu3 urung membuat SIM sampai sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s