Skip to content

Sajak Anak Muda (Mengenang W.S. Rendra)

Agustus 8, 2009

Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum.

Kita melihat kabur pribadi orang,
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.

Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.

Apakah kita tidak dimaksud
untuk mengerti itu semua?
Apakah kita hanya dipersiapkan
untuk menjadi alat saja?

Inilah gambaran rata-rata
pemuda tamatan SLA,
pemuda menjelang dewasa.

Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.
Bukan pertukaran pikiran.

Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan.

Dasar keadilan di dalam pergaulan.
serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.

Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri.
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya,
menikmati masa bodoh dan santai.

Di dalam kegagapan,
kita hanya bisa membeli dan memakai,
tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin,
tetapi hanya bisa berkuasa,
persis seperti bapak-bapak kita.

Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.
Di sana anak-anak memang disiapkan
untuk menjadi alat dari industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa henti.
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa?
Kita hanya menjadi alat birokrasi!

Dan birokrasi menjadi berlebihan
tanpa kegunaan -
menjadi benalu di dahan.

Gelap. Pandanganku gelap.
Pendidikan tidak memberikan pencerahan.
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan.
Gelap. Keluh kesahku gelap.
Orang yang hidup di dalam pengagnguran.

Apakah yang terjadi di sekitarku ini?
Karena tidak bisa kita tafsirkan,
lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja.

Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini?
Apakah ini? Apakah ini?
Ah, di dalam kemabukan,
wajah berdarah
akan terlihat sebagai bulan.

Mengapa harus kita terima hidup begini?
Seseorang berhak diberi ijasah dokter,
dianggap sebagai orang terpelajar,
tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
Dan bila ada tirani merajalela,
ia diam tidak bicara,
kerjanya cuma menyuntik saja.

Bagaimana? Apakah kita akan terus diam saja?
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
dianggap sebagai bendera-bendera upacara,
sementar hukum dikhianati berulang kali.

Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
dianggap bunga plastik,
sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.

Kita berada di dalam pusaran tata warna
yang ajaib dan tak terbaca.
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan.
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan.
Dan bila luput,
kita memukul dan mencakar
ke arah udara.

Kita adalah angkatan gagap.
Yang diperanakkan oleh angkatan kurang ajar.
Daya hidup telah diganti oleh nafsu.
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.
Kita adalah angkatan yang berbahaya.

Pejambon, Jakarta, 23 Juni 1977

==========================

Rabu, 05 Agustus 2009.

Tiba-tiba saya tergerak untuk membaca puisi-puisi. Antara jam 21.00-21.45. Awalnya, mencari karya Taufik Ismail. Namun, akhirnya keasikan baca sajak W.S. Rendra.

Cukup terhenyak dengan sajak Pak Rendra yang satu ini, Sajak Anak Muda.
Sedih. Sepertinya masih banyak yang relevan antara kondisi 1977 dengan sekarang.
Salut. Kata-kata yang beliau gunakan begitu lugas, tajam, dan menyentil.
Saya kira setiap pemuda yang peduli akan bangsanya perlu membaca sajak ini.

Dan tahukah kau, saat itu saya pun sempat berpikir, “Eh, WS. Rendra masih hidup ngga sih?”

Keesokannya, saya dapat kabar bahwa beliau baru saja meninggal dunia. Pukul 22.10 WIB di RS Mitra Keluarga Depok. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un..

Selamat jalan, pujangga.

About these ads
7 Komentar leave one →
  1. sari ;) permalink
    Agustus 9, 2009 00:35

    hehe…blogku di link…haduuuh malu aku….
    pu udh baca puisi rendra yg terakhir

    “Tuhan, aku cinta padamu…”

    Aku lemas
    Tapi berdaya
    Aku tidak sambat rasa sakit
    atau gatal

    Aku pengin makan tajin
    Aku tidak pernah sesak nafas
    Tapi tubuhku tidak memuaskan
    untuk punya posisi yang ideal dan wajar

    Aku pengin membersihkan tubuhku
    dari racun kimiawi
    Aku ingin kembali pada jalan alam
    Aku ingin meningkatkan pengabdian
    kepada Allah

    Tuhan, aku cinta padamu

    Rendra
    31 July 2009

    • Agustus 9, 2009 02:07

      Sari.. sari.. sari..
      Hehe..
      Iya, nih. Aku baru tahu dirimu punya blog. Maafkanlah daku.
      Woooo… Jazk atas sajak terakhir Pak Rendra, sar.
      Alhamdulillah.. Di akhir perjalanannya, Pak Rendra menemukan “cahaya”.
      Semoga Allah menerima segala amal kebaikannya. Amin.

  2. Agustus 12, 2009 00:51

    Saya itu orangnya kurang bisa menikmati puisi, tetapi ketika memebaca “Sajak Anak Muda” saya menyadari ternyata dengan kata-kata yang sederhana mampu terungkap sesuatu yang besar, berat dan menyesakkan dada.

    • Agustus 12, 2009 12:55

      Sepakat, mbah.
      Sederhana bahasanya, namun memiliki makna yang mendalam.

  3. Agustus 17, 2009 04:03

    untuk WS.Rendra

    aku makhluk bisu penuh dosa..
    berdiri dipadang gersang tak bernyawa..
    menatap langit tak berwarna..
    hitam…
    kelam…
    bagai hati mereka yang tak peduli akan kehidupan…
    selalu senyum palsu mereka buat…
    selalu kesalahan mereka angkat…
    kebenaran…
    keadilan…
    kejujuran…
    bukan bersemayam didada mereka…
    mereka jelmaan iblis dari neraka…
    aku tak mampu sadarkan dunia…
    aku tak bisa bahagiakan saudara…
    kini aku hanyalah jasad tanpa raga…
    tak mampu berbuat segalanya…
    AKU MAKHLUK BISU TAK BERDAYA…

  4. November 25, 2011 03:54

    Emang puisi-puisi Ws Rendra penuh dengan makna. Puisinya sajak anak muda masih relevan dg keadaan sekarang..

  5. Marwan Ariono Respati permalink
    November 16, 2013 16:06

    Bait tentang profesi dokter itu relevan sekali dengan kondisi saat ini.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 254 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: