Skip to content

Pesan Kematian

Februari 13, 2009

Malam itu telepon berdering. Seperti biasa ia beranjak menuju telepon dengan berjingkat-jingkat. Melesat dengan cepat. Bukannya senang menerima telepon. Tapi suara dering telepon itu begitu mengganggu telinga. Bising!

Dengan nada ceria, seperti biasa, ia menerima telepon. Namun entah mengapa tiba-tiba nada itu mendatar. Bahkan ada nada kesedihan dalam suaranya.

Awalnya aku acuh saja. Ah, mungkin salah satu teman sekolahnya kembali curhat. Namun ini bukanlah hal remeh itu. Ternyata salah satu orang yang ia sayangi meninggal dunia. Menghembuskan napas terakhirnya tadi sore. Tanpa “tanda-tanda” sakit atau semacamnya.

Ia pun terduduk lemas di sudut kasur. Menunduk. Menahan luapan emosi. Kemudian satu per satu air mata itu bergulir. Tak terbendung. Dan ia pun mulai terisak.

Hari ini sebuah pesan kematian mengetuk pintu rumahku.

Kejadian itu membuat saya berpikir berulang-ulang. Bagaimana kiranya jika itu terjadi pada diri saya? Bagaimana jika satu per satu orang-orang yang saya cintai “mendahului” saya? Sudah siapkah saya menghadapinya dengan ikhlas?

Apakah saya sudah siap untuk dengan ikhlas mengucapkan, “innalillahi wa inna ilaihi raajiun” ? Lalu berkata, “Mama, aku tahu hari ini akan datang. Aku ridho, Ma. Aku ikhlas. Pergilah dengan tenang, Ma. Temuilah Allah, dzat yang kita rindukan.” Seperti halnya seorang sahabat.

Ataukah nanti lidah ini akan kelu? Tenggorokan tercekat. Disebabkan hati yang berontak. Disesaki oleh pertanyaan-pertanyaan, “kenapa?”, “kenapa?”, dan “kenapa?” Tumpah-ruah oleh rasa kehilangan dan penyesalan. Hingga kalimat inna lillahi wa inna ilaihi raajiun pun seakan terhapus dari ingatan.

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. ( QS. AnNisa:78 )

Kematian.

Suatu kepastian yang kadang diri ini berusaha menepisnya. Suatu kepastian yang seringkali ditanggapi dengan, “Alah.. udahlah ngga usah ngomongin hal itu.” Suatu keniscayaan yang kerap ditanggapi dengan berlebihan. Seakan ini suatu mukjizat.

Padahal “pesan” ini sudah sering sampai kepada diri. Diulang-ulang dalam Qur’an. Lewat kisah orang lain. Lewat pengeras suara masjid yang pagi-pagi memberitahukan, “innalillahi wa inna ilaihi raajiun. Telah berpulang ke rahmatulllah Bpk/Ibu …

Tapi tetap saja diri ini tak mampu mengambil hikmahnya DAN memegangnya kuat-kuat.

Kembali menyakiti orang yang dicinta. Padahal mungkin saja ini saat-saat terakhir bersamanya.

Lalu diri ini pun tidak “ngeh”. Tidak sadar bahwa suatu saat nama saya yang akan disebut-sebut oleh pengurus masjid. Kalaupun sadar, itu pun cuma sejumput rasa takut yang kemudian buyar tak bersisa karena asik dengan dunia.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia i`tu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. ( QS. Al-Hadid:20 )

Sudah siapkah saya jika sewaktu-waktu malaikat maut datang membawa “pesan” itu? Apakah husnul khotimah, akhir yang baik, yang saya dapatkan? Ataukah (naudzubillahi min dzalik) justru syu’ul khotimah, akhir yang buruk?

Maka saya pun bercermin.

Apa saja yang sudah saya lakukan di dunia ini?

Apa yang akan saya katakan nanti dihadapan Allah dan Rasul-Nya?

Ah, saya lupa.. Ketika hari itu tiba mulut saya tidak akan bisa bertutur. Tangan, kaki, dan anggota tubuh inilah yang angkat suara.

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. ( QS. Yaasin:65 )

Apa yang kira-kira akan mereka katakan nanti?

(06-57-2)

About these ads
10 Komentar leave one →
  1. Februari 14, 2009 07:11

    Subhanallah..

    Sungguh saya sangat sering melupakan pesan kematian itu..

    Harus selalu berhijrah dan berhijrah…

    Allahu Akbar…


    putrichairina berkata :
    “Carilah hatimu di tiga tempat:
    ketika tilawah Qur’an,
    ketika shalat,
    dan ketika mengingat kematian.
    Jika engkau masih saja tidak menemukan hatimu diketiga tempat itu, maka mohonlah kepada Allah agar engkau diberikan hati. Karena sesungguhnya engkau sedang tidak punya hati.” (Imam Ghazali)
    Salam kenal, bocahbanjar.^^

  2. Februari 15, 2009 06:29

    waw… mencerahkan…
    dalam hari2 kita, pesan kematian emang begitu kuat… ada baikna kita bersiap2


    putrichairina berkata :
    Pesan itu memang begitu kuat..
    Maka persiapan adalah suatu keharusan.

  3. joh4nn4 permalink
    Februari 15, 2009 12:38

    jadi teringat sebuah sms yang mengabarkan bahwa uun telah meninggal dunia.Sampai mbak pucer telpon uun jam 12 malam.


    putrichairina berkata :
    Masyaallah, Un.. Masih inget aja kejadian itu.
    Hehe.. Iya, begitu aq dapet kabar itu, aq langsung kaget!
    Begitu baca SMS itu, aq langsung berseru, “Innalillahi! Serius,nih?” Itu separah-parahnya gosip.. Siapa yang buat ya?

  4. fitri yadi permalink
    Oktober 19, 2009 12:42

    lakukanlah dosa sebanyak-banyaknya, tp jika engkau kelak tidak mampu untuk menanggung resikonya kelak dihadapan Tuhan, maka janganlah engkau lakukan, itu bila engkau termasuk orang-orang yang beriman dan berpikir

  5. toni krisna wijaya permalink
    Januari 14, 2010 08:00

    aku belum mau mati,,,

  6. herni pebrinda permalink
    Januari 14, 2010 08:01

    kematian itu pasti akan datang,,,,

  7. Khamelovsky permalink
    Februari 7, 2010 13:06

    hmm,nice post gan..

    kematian itu memang sebuah hal yang tidak kita tahu sepenuhnya..tapi telah digambarkan secara baik oleh AlQur’an. Hendaknya setiap manusia mengerti apa yang akan dihadapinya dengan belajar tentang kematian.
    Kematian itu adalah hidup yang baru..

  8. Maret 9, 2010 03:25

    Makasih Carina…sedikit pesan ini menggugahku untuk refleksi, bahwa diri ini sangat hina dihadapan Nya , mudah-2an kesadaran ini bertahan hingga membawa khusnul khotimah

    • Maret 9, 2010 22:25

      amin…

Trackbacks

  1. Surat Seorang Ibu (Sebuah Film Pendek) « Lakukanlah dengan sepenuh hati!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 254 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: